• BIOFUNGISIDA BERBAHAN AKTIF CLADOSPORIUM SP. SEBAGAI ALTERNATIF TEKNOLOGI PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT PUTIH PADA TANAMAN KRISAN
  • ditulis tgl : 12 November 2018, telah dibaca sebanyak : 602 kali


    Gambar malas ngoding
    Karat putih merupakan  penyakit utama pada  krisan yang disebabkan oleh cendawan Puccinia horiana p. Henn. Penyakit ini biasanya menyerang daun-daun krisan yang masih muda dan akan terus menyebar seiring dengan pertumbuhan tanaman krisan apabila tidak dikendalikan. 
    Beberapa upaya pencegahan kerusakan tanaman krisan dari penyakit karat, telah dilakukan pengusaha krisan dengan berbagai cara seperti penggunaan fungisida sintetik, biofungisida, kapur, belerang dan blau.  
    Fungisida yang umum digunakan oleh pelaku usaha krisan saat ini adalah fungisida sintetik berbahan aktif pyraclostrobin.
    Pyraclostrobin merupakan fungisida dari kelompok strobiluri yang digunakan untuk melindungi tanaman yang diakibatkan oleh cendawan.   Biofungisida dengan bahan aktif Cladosporium sp. mampu mengendalikan penyakit karat pada krisan dengan kisaran 41% hingga  84% setara dengan fungisida berbahan aktif pyraclostrobin (Morgan & McKemmy 1990 ; Garcia 2005; Suhardi et al 2011, Silvia et al 2014). 

    Kapur seringkali digunakan sebagai bahan fungisida diantaranya digunakan untuk mengendalikan penyakit karat tumor yang disebabkan oleh Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin  pada tanaman sengon. 
    Perlakuan kapur banyak menekan rata-rata jumlah karat tumor (Anggraeni et al. 2010).  Belerang digunakan sebagai fungisida sejak sejarah pertanian dimulai , belerang dilaporkan dapat mengendalikan penyakit  embun tepung,  karat dan penyakit lainnya (Bilal, tanpa tahun). 
    Sedangkan blau serbuk berwarna biru yang digunakan untuk mencuci pakaian khususnya berwarna putih digunakan sebagai pengendali karat putih pada krisan di daerah Brastagi (Hutapea, 2016) komunikasi pribadi). 
    Blau mengandung sodium sitrat yang bersifat anti cendawan. Hasil penelitian Hervieux et al. (2002) menunjukkan sodium sitrat dapat menurunkan serangan  Helminthosporium solanii pada daun kentang hingga 50%. 
    Upaya untuk meningkatkan kemampuan biofungisida dalam mengendalikan karat krisan, biofungisida diuji kembali dengan menambahkan beberapa kombinasi perlakuan lain seperti penyemprotan kapur, belerang dan blau. (irm)


    (E. Silvia Yusuf,  Saepuloh, I Djatnika,  W. Nuryani,  Hanudin,  Muhidin,  Ade Sulaeman Asep Samsudin)
    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh