• MEMBANGUN JARINGAN KERJASAMA LINTAS KAWASAN FLORIKULTURA UNTUK PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI
  • ditulis tgl : 15 Agustus 2018, telah dibaca sebanyak : 761 kali


    Gambar malas ngoding

    Kementrian Koordinasi Perekonomian Republik Indonesia pada tanggal 9 Agustus 2018 mengadakan rapat koordinasi yang bertajuk “Membangun Jaringan Kerjasama Lintas Kawasan Florikultura Untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani”. Acara ini dilaksanakan sebagai sarana komunikasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah serta para pelaku usaha tani bunga di Kota Tomohon. Turut hadir dalam acara ini adalah Bapak Walikota Tomohon, Direktur Buah dan Florikultura dan Kepala balai Penelitian Tanaman Hias.

     

    Dalam sambutannya Walikota Tomohon bercerita mengenai potensi dan succes story pengembangan dunia Florikultura di Kota Tomohon. Walikota mengatakan bahwa perekonomian Kota Tomohon sangat terbantu dengan berkembangnya bisnis bunga saat ini. Potensi inilah yang akan terus ditingkatkan dan ditularkan ke daerah lain sehungga kemajuan ekonomi tak hanya dirasakan oleh petani di Tomohon tapi juga di daerah lainnya.

     

    Turut meberikan sambutan adalah Direktur Buah dan Flori yaitu Bapak Sarwo Edi. Dalam sambutannya Direktur buah dan flori mengatakan Pembangunan agribisnis florikultura mencatat berbagai keberhasilan selama periode 2010-2016, diantaranya peningkatan produksi, produktivitas, luas area tanam, nilai ekspor, dan penyerapan tenaga kerja. Pada periode waktu tersebut, produksi dan produktivitas berbagai komoditas florikultura rata-rata meningkat sekitar 27 % per tahun, luas tanam meningkat 15 % per tahun, nilai PDB florikultura meningkat 12 %, nilai ekspor mencapai lebih dari US $ 20 Juta, dan penyerapan tenaga kerja mencapai lebih dari 0,75 juta orang.  Namun demikian, pengembangan florikultura Indoensia masih menghadapi berbagai persoalan. Persoalan mendasar yang dihadapi oleh agribisnis florikultura pada saat ini ialah, meningkatnya kerusakan lingkungan produksi dan perubahan iklim global, terbatasnya ketersediaan infrastruktur, sarana prasarana, lahan dan air, rendahnya kepemilikan lahan, lemahnya sistem perbenihan nasional, keterbatasan akses petani terhadap permodalan, masih tingginya suku bunga usaha tani, lemahnya kapasitas dan kelembagaan petani dan penyuluh, rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP), dan belum padunya antar sektor dalam menunjang pembangunan agribisnis florikultura. Untuk itulah maka diharapkan pemerintah daerah Kota Tomohon dapat membantu petani dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.

     

    Kepala Balai Penelitian tanaman Hias dalam sambutannya mengatakan bahwa peran teknologi dalam pengembangan kawasan florikultura sangatlah besar. Pembangunan industri florikultura diarahkan pada upaya peningkatan daya saing. Hal ini menuntut tersedianya inovasi teknologi yang dihasilkan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan yang intensif. Ke depan Balithi harus  proaktif, antisipatif dan partisipatif dalam menciptakan, merekayasa, dan mengembangkan IPTEK guna mendukung terwujudnya industri florikultura yang berdaya saing. Inovasi teknologi yang dihasilkan Balithi harus memiliki nilai tambah komersial dan ilmiah sesuai kebutuhan para pelaku agribisnis di dalam negeri. Di samping itu diperlukan pembentukan daya inovasi dan akselerasi adopsi teknologi untuk menghasilkan produk-produk berdaya saing tinggi.

     

    Setelah paparan dari para narsum, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan testimoni dari petani krisan di Tomohon. Beberapa petani yang hadir diantaranya adalah Bu Yeni dan Pak lexi. Bu Yeni mengatakan bahwa saat ini dirinya sudah memiliki 10 GH Krisan, dimana setiap 2 minggu penghasilnnya dari 1 GH adalah 8 juta. Hasil dari usaha taninya ini tentu memberikan motivasi lebih bagi para petani untuk terus mengusahakan tanaman hias.

     

    Selanjutnya acara dilanjutkan dengan kunjungan ke GH krisan yang ada di Show Windows Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Tomohon. Turut hadir dalam kunjungan ini adalah 12 perwakilan Duta Besar negara sahabat. Terlihat bahwa performa Krisan yang ditampilkan dalam GH sangat menarik perhatian para tamu yang hadir.

    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman ± 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh
    • 16 Mei 2019

      Cyperus alternifolius L. (Cyperaceae)

      Nama Cyperus berasal dari bahasa Yunani, kypeiros yang berarti rumput, dan alternifolius merujuk pada susunan daun pelindung yang teratur.
      Tanaman Cyperus memiliki tinggi antara 1-2 m, bagian atas disusun oleh daun-daun pelindung yang menaungi rangkaian bunga. Letak daun pelindung C. alternifolius tidak berhadapan dengan tepi daun polos. Tulang daun sejajar dengan panjang 15 - 40 cm dan lebar 1,3 cm, tersusun secara radial. Bentuk bunga spikelet, membentuk klaster dan keluar dari
    • 15 Mei 2019

      ANJANI AGRIHORTI

      Gladiol Varietas Anjani Agrihorti merupakan hasil persilangan yang memiliki bunga dengan warna mahkota bagian atas perpaduan antara merah dan kuning yang disertai bercak merah pada kedua sisi helain mahkota.  Mahkota bagian bawah berwarna kuning pada bagian pangkal dan merah pada bagian tengah dan ujung terminal.  Lidah bunga berwarna merah dan kuning berseling pada bagian tepi dan terdapat bintik merah di bagian tengah lidah dan kuning pada bagian pangkal lidah
    • 14 Mei 2019

      ANTHURIUM PLOWMANII

      Anthurium adalah genus terbesar pada family Araceae dengan anggota lebih dari 1500 spesies (Mayo et al. 1997; Govaerts dan Frodin 2002). 
      Sistem klasifikasi anthurium menurut  Croat dan Sheffer (1983) terbagi menjadi 19 seksi, yaitu : Tetraspermium, Gymnopodium, Porphyrochitonium, Pachyneurium, Polyphyllium, Leptanthurium, Oxycarpium, Xialophyllium, Polyneurium, Urospadix, Episeiostenum, Digitinervium, Cardiolonchium, Chamaerepium, Calomystrium, Belolonchium,