• PERBANYAKAN KLON HARAPAN DENDROBIUM HASIL SILANGAN BALITHI DENGAN CARA KULTUR JARINGAN
  • ditulis tgl : 28 Mei 2018, telah dibaca sebanyak : 1116 kali


    Gambar malas ngoding
    ABSTRAK. Dendrobium merupakan salah satu jenis anggrek yang telah dibudidayakan oleh masyarakat luas baik di dalam maupun di luar negeri. Perbanyakan tanaman anggrek bisa dilakukan secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan untuk mendapatkan tanaman yang sama seperti induknya. perbanyakan secara kultur jaringan untuk mendapatkan tunas anakan dalam jumlah banyak, seragam dan dalam waktu yang relatif lebih singkat. Penelitian ini bertujuan membantu tersedianya bibit anggrek yang mencukupi dalam rangka mendukung program pelepasan varietas anggrek Dendrobium hasil silangan Balithi.  Penelitian dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama adalah  inisiasi plbs. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Komposisi media untuk menginduksi protocorm like bodies (plbs.) adalah sebagai berikut: (1)Vacin&Went  + air kelapa 150 ml/l + sukrosa 20 g/l (kontrol), (2) Vacin&Went + TDZ 3 ppm + NAA 1 ppm + BAP 1.5 ppm + air kelapa 150 ml/l + sukrosa 20 g/l, (3) Vacin&Went + TDZ 3 ppm + Tiamin 1 ppm + Kinetin 1 ppm + air kelapa 150 ml/l + sukrosa 20 g/l, (4) Vacin&Went + BAP 1.5 ppm + NAA 1 ppm + air kelapa 150 ml/l + sukrosa 20 g/l, (5) Vacin&Went + Tiamin 1 ppm + Kinetin 1 ppm + air kelapa 150 ml/l + sukrosa 20 g/l.  Tahap kedua adalah proliferasi plbs. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Komposisi media untuk proliferasi plbs. menjadi planlet adalah sebagai berikut: (1) Vacin&Went + air kelapa 150 ml/l + gula 20 g/l + pisang 75 g/l +charcoal 2 g/l + agar 7 g/l, (2) Vacin&Went + air kelapa 150 ml/l + gula 20 g/l + ubi kayu 50 g/l + charcoal 2 g/l + agar 7 g/l, (3) Vacin&Went + air kelapa 150 ml/l + gula 20g/l + ubi manis 50 g/l + charcoal 2 g/l + agar 7 g/l, (4) Vacin&Went + NAA 1 ppm + BAP 1.5 ppm + air kelapa 150 ml/l + gula 20 g/l + pisang 75 g/l + charcoal 2 g/l + agar 7 g/l, (5) Vacin&Went + NAA 1 ppm + BAP 1.5 ppm + Pepton 2 g/l + air kelapa 150 ml/l + gula 20 g/l + pisang 75 g/l + charcoal 2 g/l + agar 7 g/l, (6)Hyponex 4 g/l + air kelapa 150 ml/l + pisang 75 g/l + charcoal 2 g/l + agar 7 g/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Media yang cocok untuk inisiasi eksplan menjadi plbs. anggrek Dendrobium hasil silangan Balithi adalah media dengan komposisi Vacin&Went+TDZ 3 ppm +BAP 1.5 ppm+ NAA 1 ppm dan Vacin&Went+ TDZ 3 ppm + Tiamin 1 ppm + Kinetin 1 ppm, (2) Proliferasi plbs. menjadi planlet dapat terjadi pada semua perlakuan komposisi media, namun yang terbaik yaitu pada komposisi media Vacin&Went + pisang 75 g/l + NAA 1mg/l + BAP 1.5 mg/l + pepton 2g/l., (3) Telah dihasilkan 5 klon anggrek Dendrobium hasil silangan BALITHI yaitu dengan nomor silangan NS 001/10, NS 022/21, NS 022/23, NS 022/27, dan NS 022/62.

    Kata kunci : Anggrek, Dendrobium, plbs., Planlet, Balithi


    Dendrobium merupakan salah satu jenis anggrek yang telah dibudidayakan oleh masyarakat luas baik di dalam maupun di luar negeri. Di Asia Tenggara, anggrek ini menjadi andalan Thailand, Indonesia dan Filipina. Kerabat Orchidaceae ini tumbuh mulai di dataran rendah Kalimantan hingga kaki pegunungan Himalaya di ketinggian 3800 m dpl. (Anonim, 2005).
    Perbanyakan tanaman anggrek dapat dilakukan pada saat generatif dan vegetatif.  Perbanyakan secara generatif melalui persilangan biasanya dilakukan dengan tujuan seleksi, untuk mendapatkan jenis bunga yang sesuai dengan karakter yang dikehendaki. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan untuk mendapatkan tanaman yang sama seperti induknya. Namun apabila perbanyakan vegetatif dilakukan secara konvensional, maka dari satu tanaman induk hanya diperoleh beberapa tunas anakan. Dengan demikian perlu dilakukan perbanyakan secara kultur jaringan untuk mendapatkan tunas anakan dalam jumlah banyak, seragam dan dalam waktu yang relatif lebih singkat.
    Banyak faktor yang menentukan dalam perbanyakan secara kultur jaringan di antaranya adalah faktor genetis, komposisi media kultur, lingkungan tumbuh dan keterampilan dalam pelaksanaan. Kompisisi media kultur jaringan biasanya terdiri atas unsur hara makro, mikro, sukrosa, vitamin, asam amino, hormon dan lain sebagainya. Media Vacin & Went yang dimodifikasi dengan penambahan senyawa tertentu dapat digunakan untuk menumbuhkan tanaman anggrek. Penambahan vitamin ke dalam media kultur dapat merangsang pertumbuhan jaringan dan organ tanaman anggrek (Arditti dan Ernst, 1993). Penambahan tiamin 1.0 ppm pada media tumbuh merupakan konsentrasi yang optimal untuk pertumbuhan tinggi planlet, panjang akar, jumlah akar, jumlah daun, dan luas daun anggrek Oncidium (Widiastoety, dkk., 2009).
    Penggunaan sukrosa sebagai sumber energi  sangat baik untuk pertumbuhan tanaman anggrek secara in vitro. Penambahan sukrosa 20 g/l ke dalam media tumbuh cukup optimal untuk mendorong pertumbuhan plbs.(protocorm like bodies) anggrek Vanda (Widiastoety et al. , 1985) dan mendorong pertumbuhan protocorm anggrek Dendrobium (Widiastoety, et al.., 1998). Air kelapa merupakan endosperm yang berperan sebagai cadangan makanan cair, sumber energi yang banyak mengandung zat pengatur tumbuh.  Penambahan air kelapa 150 ml/l ke dalam media tumbuh dapat mendorong pembentukan plbs. anggrek Vanda (Widiastoety dan Santi, 1994).  Menurut Tulecke et. al. (1961) dalam Widiastoety (2001)  air kelapa mengandung zat atau bahan – bahan unsur hara, vitamin, asam – asam amino, asam nukleat, fosfor, zat tumbuh seperti auksin dan gibeelat yang berfungsi sebagai penstimulir proliferasi jaringan, memperlancar metabolisme dan respirasi (Tabel Lampiran1.)
    Hormon tanaman atau zat pengatur tumbuh berperan dalam mendorong pertumbuhan tanaman dalam kultur jaringan.  Hormon – hormon yang biasa digunakan dalam kultur jaringan yaitu BA (Benzyl Adenin), BAP (Benzyl Amino Purin), NAA (Naphtalen Acetic Acid), 2,4 D (2,4-dichlorophenoxyacetic acid), TDZ (1-phenyl-3(1,2,3-thiadiazol-5 yl) –urea, dan lain sebagainya.  Penambahan 3 - 10 ppm 2,4 D dan 0.3 – 3 ppm TDZ pada media ½ MS dapat menginduksi terbentuknya kalus dan terjadinya proliferasi pada eksplan daun dan batang pada kultur jaringan anggrek Vanda (Thi Lang & Thi Hang, 2006).  Penggunaan Mitra medium dengan penambahan BA dan IAA dengan perbandingan 2 : 1 dengan kisaran BA 44.4 – 66.6 uM dapat mendorong pertumbuhan tunas pada kultur jaringan anggrek Vanda spathulata ( Decruse, et al, 2003).  Penambahan 2 mg/l BA dan 0.1 mg/l NAA pada media ½ MS dapat mendorong munculnya tunas dari eksplan ”Axenic nodal” pada kultur jaringan anggrek Dendrobium candidum (Shiau, Yin-Juh et al., 2005). Media Knudson yang dimodifikasi dengan 3 mg/l BAP dan 2 mg/l NAA dapat meningkatkan produksi plb. pada kultur tangkai bunga anggrek Dendrobium moschatum (http://www.ias.ac.in/currsci/aug25/articles13.htm). 
    Untuk pertumbuhan planlet dalam media padat, perlu ditambahkan pisang untuk mendorong pertumbuhannya.  Hal tersebut karena di dalam buah pisang terkandung beberapa macam zat seperti tertera dalam Tabel Lampiran 2.  Menurut Arditti (1968)  dalam buah pisang terdapat hormon auksin dan giberelin.  Diketahui bahwa hormon giberelin berperan dalam pertumbuhan tunas baru atau planlet dalam kultur.
    Ubi kayu dan ubi jalar dapat  dipakai sebagai bahan tambahan untuk media padat, karena selain mengandung karbohidrat yang cukup tinggi, juga mengandung unsur – unsur lainnya seperti protein, mineral dan vitamin.  Selain harganya murah, ubi kayu dan ub jalar banyak tersedia di pasaran sehingga bisa menjadi alternatif sumber karbohidrat dan unsur lainnya.

    Teknologi perbanyakan secara kultur jaringan sangat membantu dalam penyediaan bibit anggrek yang sama dengan induknya dalam jumlah banyak dan seragam dalam waktu yang relatif lebih singkat.  Dalam rangka membantu penyediaan bibit anggrek Dendrobium hasil silangan Balithi, maka penelitian ini diharapkan dapat mendukung program pelepasan varietas baru tersebut.  Dengan asumsi bahwa masing – masing varietas anggrek mempunyai respon yang berbeda terhadap komposisi media kultur, maka masih perlu dilakukan penentuan komposisi yang sesuai untuk inisiasi dan multiplikasi plbs. anggrek Dendrobium hasil silangan Balithi.
    Dengan teknologi perbanyakan secara kultur jaringan, diharapkan dapat membantu tersedianya bibit anggrek yang mencukupi dalam rangka mendukung program pelepasan varietas anggrek Dendrobium hasil silangan Balithi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan media yang cocok untuk inisiasi eksplan menjadi plbs.  dan  proliferasi plbs. menjadi planlet anggrek Dendrobium hasil silangan Balithi.
    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25°C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman ± 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh