• AKLIMATISASI TANAMAN MINI (PLANLET) KRISAN YANG BERASAL DARI LABORATORIUM.
  • ditulis tgl : 14 Mei 2018, telah dibaca sebanyak : 785 kali


    Gambar malas ngoding
    Aklimatisasi dilakukan dengan tujuan  untuk penyesuaian kondisi lingkungan secara bertahap dari laboratorium ke lapangan, oleh karena itu dikondisikan supaya iklim mikro di sekitar tanaman  optimal dan tidak membuat tanaman stress.  
    Modifikasi lingkungan tersebut dilakukan melalui pembuatan saung plastik yang dilapisi paranet 75 % untuk mengurangi intensitas cahaya matahari yang diterima tanaman, akan tetapi proses fotosintesis tetap berlangsung. Membuat instalasi listrik untuk penambahan periode hari panjang pada malam hari  selama 4 jam, karena tanaman krisan merupakan tanaman sub tropis membutuhkan pencahayaan yang berkisar antara 13,5-16 jam per hari. Media tanam menggunakan arang sekam dalam baki persemaian dengan tinggi media 10-12 cm atau baki tary, sperti pada gambar 5a dan gambar 5b.  siram media sampai jenuh  dengan  larutan fungisida Propamokarb hidroclorida 72 g/l dengan dosis 2-3 cc/l.

    Buat larikan untuk mengatur jarak tanam, dengan ukuran 4x4 cm. Tinggi planlet yang akan ditanam berkisar antara 5-6 cm, kemudian tanam planlet dengan pososisi tegak dengan cara menekan secara hati-hati media yang ada disekitar perakaran, kemudian siram planlet dan media tanam dengan air bersih sampai rata. Untuk pemeliharaan dilakukan penyiraman  pada pagi dan sore hari (tergantung kondisi cuaca pada hari itu) dengan cara menyemprotkan air bersih pada permukaan daun sampai rata setiap hari selama 2-3 minggu, sedangakan penyiraman media dilakukan sesuai kondisi media. 
    Selanjutnya penyiramana dilakukan melalui media 2-3 kali per minggu. Untuk pengendalian hama/ penyakit dan pemupukan cair dapat dilakukan pada saat tanaman sudah berumur 2 minggu melalui penyemprotan daun. Tanaman sudah dapat dipindahkan ke lapngan pada umur 5-6 minggu setelah diaklimatisasi serta sudah dapat menghasilkan setek pertama  setelah berumur 4 minggu setelah tanam.

    ~irm~
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh
    • 16 Mei 2019

      Cyperus alternifolius L. (Cyperaceae)

      Nama Cyperus berasal dari bahasa Yunani, kypeiros yang berarti rumput, dan alternifolius merujuk pada susunan daun pelindung yang teratur.
      Tanaman Cyperus memiliki tinggi antara 1-2 m, bagian atas disusun oleh daun-daun pelindung yang menaungi rangkaian bunga. Letak daun pelindung C. alternifolius tidak berhadapan dengan tepi daun polos. Tulang daun sejajar dengan panjang 15 - 40 cm dan lebar 1,3 cm, tersusun secara radial. Bentuk bunga spikelet, membentuk klaster dan keluar dari
    • 15 Mei 2019

      ANJANI AGRIHORTI

      Gladiol Varietas Anjani Agrihorti merupakan hasil persilangan yang memiliki bunga dengan warna mahkota bagian atas perpaduan antara merah dan kuning yang disertai bercak merah pada kedua sisi helain mahkota.  Mahkota bagian bawah berwarna kuning pada bagian pangkal dan merah pada bagian tengah dan ujung terminal.  Lidah bunga berwarna merah dan kuning berseling pada bagian tepi dan terdapat bintik merah di bagian tengah lidah dan kuning pada bagian pangkal lidah
    • 14 Mei 2019

      ANTHURIUM PLOWMANII

      Anthurium adalah genus terbesar pada family Araceae dengan anggota lebih dari 1500 spesies (Mayo et al. 1997; Govaerts dan Frodin 2002). 
      Sistem klasifikasi anthurium menurut  Croat dan Sheffer (1983) terbagi menjadi 19 seksi, yaitu : Tetraspermium, Gymnopodium, Porphyrochitonium, Pachyneurium, Polyphyllium, Leptanthurium, Oxycarpium, Xialophyllium, Polyneurium, Urospadix, Episeiostenum, Digitinervium, Cardiolonchium, Chamaerepium, Calomystrium, Belolonchium,