• HIBRIDISASI INTRASPESIFIK DAN INTERSPESIFIK ANYELIR
  • ditulis tgl : 11 Mei 2018, telah dibaca sebanyak : 887 kali


    Gambar malas ngoding
    Tujuan penelitian adalah mendapatkan F1 anyelir yang bertipe dan berbunga novel. Percobaan dilaksanakan mulai bulan Januari sampai dengan Desember 2007 di Kebun Percobaan Tanaman Hias Cipanas. Persilangan dilakukan searah maupun dua arah (resiprok). Pengamatan dilakukan terhadap persentase keberhasilan persilangan, jumlah biji/persilangan, persentase biji tumbuh dan persentase tanaman F1 yang hidup. Sebanyak 28 seri persilangan berhasil membentuk biji, 16 seri persilangan diantaranya berhasil tumbuh menjadi individu-individu F1 anyelir. Keberhasilan persilangan sebesar 6.56 %, jumlah biji/persilangan bervariasi antara 1 - 88 biji , persentase biji tumbuh antara 50 % - 100 % dan jumlah tanaman F1 yang hidup bervariasi antara 1 - 16 tanaman. Tanaman F1 interspesifik memiliki tipe dan bunga baru novel dengan siklus hidup yang pendek.
    Kata kunci : anyelir, hibridisasi, intraspesifik, interspesifik


    Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu tanaman hias yang penting di dunia. Keindahan bunga tanaman ini dipengaruhi oleh warna dan bentuk mahkota bunganya (Sudarmonowati dkk., 1996). ). Anyelir merupakan anggota dari famili Caryophyllaceae yang terdiri dari 88 genera dan 1750 spesies (Ali A. et al., 2008).  Dianthus caryophyllus yang menurunkan anyelir yang ada saat ini, berasal dari Eropa bagian selatan dan Asia bagian barat (Mii et al., 1990).

    Sejalan dengan peningkatan pendapatan dan kesejahtaraan masyarakat, maka konsumsi bunga potong akan cenderung meningkat (SI LMUK, 2004). Sebagai gambaran pada tahun 1999, volume bunga potong anyelir yang masuk ke pasar bunga Rawa Belong sebanyak 265.400 tangkai tiap minggu dan pada tahun 2000 mengalami peningkatan, yaitu sebanyak 345.800 tangkai per minggu (Satsijati dkk., 2004). Potensi pasar yang baik tidak hanya terjadi di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri. Pada tahun 2005 pertumbuhan permintaan bunga potong untuk konsumsi dalam negeri diperkirakan mencapai Rp 186 428 miliar, sedangkan peluang ekspor florikultura dunia diperkirakan mencapai US $ 120 miliar pada tahun 2007 (SI LMUK, 2004).

    Untuk memenuhi peningkatan permintaan akan bunga potong tersebut, maka perlu dikembangkan penyediaan varietas baru yang unggul. Hal ini disebabkan  oleh tingginya ketergantungan Indonesia pada benih impor dan faktor ini sangat penting, sebab 30 35% biaya produksi berasal dari pembelian bibit (SI LMUK, 2004). Di dalam dunia florikultura, selera konsumen sangat menentukan popularitas kultivar, selera konsumen yang berubah setiap saat menyebabkan suatu kultivar menjadi mudah usang dalam waktu singkat. Untuk itu perlu diantisipasi dengan perakitan kultivar baru secara berkesinambungan melalui penerapan teknik pemuliaan tanaman secara efektif (Sanjaya dkk., 1995).

    Menurut Howard (1968) dalam Broertjes dan van Harten (1988), sebagian besar anyelir komersial adalah diploid (2n = 30), walaupun ada beberapa yang tetraploid. Anyelir sangat heterosigos dan diperbanyak secara vegetatif, oleh karena itu, seleksi individu F1 hasil persilangan antar varietas dengan karakter yang diinginkan sangat menentukan keberhasilan program pemuliaan anyelir. Studi genetik anyelir kebanyakan terkonsentrasi pada beberapa karakter bunga seperti ukuran, warna, dan petal ganda dan sedikit yang diketahui tentang karakter penting lainnya seperti ketahanan terhadap penyakit (Holley dan Baker, 1963 dalam Mii et al., 1990).

    Perbaikan karakter bentuk dan warna bunga, vase life dan ketahanan terhadap penyakit dapat diperoleh melalui persilangan (Agrifood Awareness Australia Limited, 2004). Persilangan antar varietas anyelir (standar atau spray) tidak mampu mengubah karakter umum tanaman anyelir. Persilangan antar spesies anyelir dengan karakter yang sangat berbeda diharapkan dapat menghasilkan turunan tipe baru dengan karakter warna dan pola warna baru atau siklus hidup yang lebih pendek (Demmink, 1978).

    Karakter-karakter  yang biasanya menjadi tujuan program pemuliaan anyelir  adalah warna bunga novel seperti biru dan ungu, aroma bunga yang kuat, diameter bunga besar dengan tangkai yang kokoh, bunga ganda tanpa kelopak pecah, vase life lama, produksi bunga tinggi, tahan terhadap penyakit, dan toleran terhadap temperatur tinggi dan rendah (Mii et al., 1990).

    M. Dewanti, Y. Supriyadi dan R. Meilasari

    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk