• ASAL USUL DAN MORFOLOGI AGLAONEMA
  • ditulis tgl : 07 Mei 2018, telah dibaca sebanyak : 3657 kali


    Gambar malas ngoding
    Aglaonema diyakini berasal dari daratan Asia, menyebar dari wilayah China bagian selatan, Thailand, Birma, Indonesia hingga Filipina.  Habitat asli tanaman ini adalah tempat-tempat terlindungi seperti di bawah tajuk rindangan hutan dengan intensitas cahaya yang rendah.  Tanaman ini termasuk dalam famili Araceae, bersama-sama dengan tanaman lain seperti Dieffenbachia, Colocasia, Alocasia, Philodendron dan Anthurium.  Sistematika botani tanaman ini adalah sebagai berikut :
    Philum : Plantae
    Divisi : Spermatophyta
    Sub-divisi : Angiospermae
    Kelas : Monocotyledonae
    Ordo : Araceales
    Famili : Araceae
    Genus : Aglaonema
    Spesies : A. modestum, A. bevispathum, A. cochinchinese, A. pumilum, A. simplex, A. commutatum, A. costatum, A.crispum, A. nitidum.

    Sebagaimana umumnya tanaman momokotil, aglaonema memiliki sistem perakaran serabut.  Akar ini selain berfungsi sebagai perekat tanaman pada media tumbuh untuk tumbuh tegaknya tanaman, juga berfungsi sebagai organ untuk menyerap dan mentransportasikan air dan nutrisi dari dalam media tumbuh yang selanjutnya berguna untuk sistem metabolisme dalam tubuh tanaman.  Akar tanaman aglaonema berbentuk silinder, berwarna putih hingga putih kekuningan dan sukulen.  Beberapa gejala serangan penyakit pada akar juga akan menyebabkan akar tanaman berubah warna menjadi cokelat, kurus atau bahkan busuk.
    Batang tanaman aglaonema berbentuk silinder, tidak berkayu, berwarna putih, hijau atau merah, dan berbuku.  Setiap buku pada batang mempunyai satu mata tunas yang berpotensi untuk tumbuh menjadi percabangan baru bila kondisi memungkinkan.  Bentuk daun bervariasi dari oval hingga lanset (lanceolate) dengan susunan tulang daun menyirip.  Daun pada umumnya berwarna hijau dengan variasi gradasi warna, variasi berupa bulatan (marbled), dan perforasi pada helaian daun.   Tangkai daun berpelepah dan saling menutupi batang, hingga terkesan tanaman aglaonema tidak mempunyai batang yang jelas.  Salah satu jenis spesies yang berdaun merah adalah A. rotundum.  Spesies ini berasal dari Pulau Sumatera tepatnya pada daerah Aceh dan Sumatera Utara
    Bentuk dan warna bunga aglaonema tidaklah variatif seperti pada daunnnya.  Bunga aglaonema berbentuk seperti tongkol memanjang seperti jagung.  Bagian bunga terdiri atas tangkai bunga, seludang (spathe) dan spadiks.  Tangkai bunga berwarna hijau hingga hijau kekuningan, memanjang dari batang yang dilindungi pelepah daun.  Spathe berrwarna hijau hingga hijau kekuningan menutup bagian spadiks.  Bila bunga sudah matang, spathe akan membuka.  Spadiks adalah bagian tongkol yang terdiri atas bagian bunga betina yang terletak pada bagian bawah dan bunga jantan yang terletak pada bagian atas.  

    Bunga aglaonema bersifat protogynuous, yang berarti bunga jantan dan betina matang dalam waktu yang tidak bersamaan.  Pada tanaman ini, bunga betina akan matang terlebih dahulu dibandingkan dengan bunga jantan.  Bunga betina yang masak ditandai dengan membukanya spathe dan stigma (permukaan bunga betina) berlendir serta lengket.  Setelah bunga betina lewat masak (tidak lagi receptive), bunga jantan akan masak yang ditandai dengan keluarnya serbuk sari yang menyerupai tepung berwarna putih.  Sifat ketidakbersamaan kematangan bunga ini mengindikasikan bahwa penyerbukan bunga betina dari bunga jantan pada tongkol yang sama (self pollination) relatif sulit terjadi.  Namun demikian, beberapa kasus menunjukkan terdapatnya buah dengan embrio fertil yang banyak diketemukan secara alami.  Biji-biji ini adalah biji apomiktif yang berasal dari organ somatis selain ovum pada bunga betina yang berkembang membentuk biji fertil.

    Buah tanaman aglaonema berbentuk berry, bulat agak lonjong mirip buah melinjo.  Kulit buah berwarna hijau pada saat muda dan berubah warna menjadi kuning hingga merah bila masak.  Biji akan masak setelah 6 hingga 12 bulan tergantung spesies dari penyerbukan yang berhasil.  Biji bagian dalam berkulit keras dan dapat berkecambah 1 hingga 6 bulan setelah penyemaian.


    ~K.urniawan B.~
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk