• AGLAONEMA, TANAMAN HIAS BERDAUN INDAH
  • ditulis tgl : 02 Mei 2018, telah dibaca sebanyak : 2522 kali


    Gambar malas ngoding
    Aglaonema atau dalam bahasa Indonesia sering disebut ‘Sri Rejeki’ merupakan tanaman hias yang akhir-akhir ini banyak diminati oleh masyarakat pecinta tanaman.  Nama Aglaonema berasal dari bahasa Yunani dari kata ‘Aglos’ yang berarti terang dan ‘Nomos’ yan berarti benang atau benang sari.  Selain nama Aglaonema, tanaman ini juga dikenal dengan nama Chinese evergreen.  Nama ini diberikan sebagai simbol bahwa orang China lah yang pertama kali membudidayakan tanaman ini.  Nama Chinese evergreen sebenarnya lebih mengacu kepada salah satu spesies aglaonema yaitu A. modestum, namun kalangan pecinta tanaman hias kemudian menggunakan nama ini untuk menyebutkan untuk semua jenis Aglaonema.  Dan masyarakat China sendiri, tanaman Aglaonema lebih dikenal dengan sebutan ‘wan neien ching’, sedangkan masyarakat di Thailand, menyebut tanaman ini dengan nama ‘siamese rainbow’.

    Aglaonema termasuk tanaman hias daun, yaitu tanaman hias dengan daya tarik utama terletak pada keindahan daun-daunnya.  Bentuk daun tanaman Aglaonema sebenarnya sederhana.  Hampir tidak ada variasi pada bentuk, modifikasi fisik helaian atau perforasi daun.  Daya tariknya terletak pada warna dan motif warna helaian daun yang variatif.  Sebagai tanaman hias dalam ruangan (indoor), aglaonema umumnya ditempatkan di teras atau bagian dalam rumah.  Kehadiran tanaman ini dalam ruangan memberikan impresi keanggunan yang menyejukkan mata orang yang memandangnya.

    Keindahan sosok tanaman ini membuat popularitasnya tidak hanya dikenal di kawasan Indonesia atau Asia Tenggara saja, melainkan kebelahan bumi yang lainnya.  Di kawasan Eropa dan Amerika Serikat, tanaman ini juga sudah lama dikenal sebagai tanaman hias dan digunakan dalam ruangan.  Meskipun demikian, ada perbedaan selera masyarakat penggemar tanaman hias ini.  Di Eropa dan Amerika Serikat, masyarakat lebih menyukai aglaonema dengan daun berwarna hijau atau bernuansa hijau, sedangkan di Asia, penggemar tanaman hias ini lebih menyukai tanaman dengan corak warna daun cerah seperti merah, oranye dan kuning.


    ~Kurniawan B.~
    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25°C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman ± 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh