• MENGENAL ANGGREK SPATHOGLOTTIS
  • ditulis tgl : 16 April 2018, telah dibaca sebanyak : 1897 kali


    Gambar malas ngoding
    Anggrek tanah atau Spathoglottis telah banyak dikenal di masyarakat. Nama generik Spathoglottis berasal dari bahasa Yunani “spathe” yang berarti pedang dan “glossa” atau “glotta” yang berarti lidah. Sedang nama spesifik “plicata” diperoleh dari penampilan atau lekukan daunnya (Davis and Stiener. 1982). 
    Spathoglottis memiliki ukuran bunga yang beragam dari yang kecil dan sempit sampai besar dan lebar dengan panjang tangkai bunga bervariasi dari yang pendek sampai tinggi. Tanaman anggrek ini seperti tanaman berbunga lain, memilki bagian-bagian tanaman yaitu akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. 
     
    Akar
    Tidak seperti tanaman anggrek lainnya, Spathoglottis memiliki bentuk dan akar yang sama dengan tanaman berbunga. Akar tumbuh di sekitar buku batang berturut-turut sepanjang batang dimulai dari bagian bawah.
     
    Batang
    Batang merupakan bagian tanaman yang berfungsi sebagai tempat bertumpu bagian-bagian lain seperti daun, bunga dan akar. Pada tanaman anggrek terdapat dua tipe batang yang berbeda yaitu berbatang satu (monopodial), yang tumbuh memanjang tanpa batas serta berbatang banyak (sympodial) yang tumbuh menyamping.
    Tanaman anggrek Spathoglottis termasuk tipe sympodial yang membentuk bongol menyerupai bulb (umbi) yang beruas-ruas pendek  
    bekas tempat tumbuh daun. Umbi ini bukan benar-benar umbi (karena merupakan bentukan dari sejumlah daging daun yang terpisah seperti pada bawang) yang biasanya disebut dengan pseudobulb (batang semu). Daerah ini tempat tumbuhnya tunas-tunas anakan yang membentuk rumpun. 
    Pertumbuhan batang semu ini terbatas, setelah mencapai ukuran penuh, daun menjadi kering dan tidak lagi memproduksi daun baru. Namun sebelum ini terjadi biasanya akan muncul tunas baru pada dasar batang semu dan menjadi batang semu baru. Batang semu lama untuk beberapa saat masih menyediakan makanan dan akhirnya akan mati.

    Daun
    Seperti tanaman pada umunya, daun anggrek Spathoglottis memiliki fungsi untuk mengolah makanan melalui proses fotosintesis, menyimpan air dan unsur hara, serta menguapkan air.  Spathoglottis memiliki bentuk daun pita dengan permukaan daun berlipat-lipat memanjang sejajar dengan tulang daun. 
     
    Bunga
    Bunga Spathoglottis terdiri atas kelopak bunga (sepal), mahkota bunga (petal), tugu (column) yang membawa benang sari (anther) dan putik (stigma) serta bibir. Kelopak bunga berjumlah tiga terdiri atas satu kelopak atas dan dua kelopak samping yang menyebar di sisi lain dari bibir. Pada bibir tersusun atas dua keeping sisi, satu keping tengah dan dibagian pertemuan keeping sisi dijumpai callus (tonjolan berwarna kuning)
    Alat reproduksi terdiri atas stamen yang berbentuk pollinia yang merupakan suatu massa pollen yang biasanya berjumlah delapan tersusun dalam dua kelompok yang masing-masing berjumlah empat pollinia. Stigma terletak dibelakang anther yang merupakan suatu cekungan pada tugu yang pada saat reseptif lembab dan Bunga dan bagian bunga Spathoglottis (repro : Holtum, 1964). 
    Hampir semua anggrek memiliki bibir yang terletak di bagian bawah bunga. Pada waktu masih kuncup bibir ini terletak di atas. Pada waktu bunga mulai mekar, tangkai bunga berputar dan setelah mekar penuh arah bunga berubah 180 derajat.

    Buah dan Biji
    Segera setelah bunga diserbuki, ovari akan tumbuh menjadi buah berbentuk silinder berwarna hijau. Jika sudah masak bagian sisi yang berjumlah 3 bagian akan membuka dan biji akan jatuh. Setiap biji terdiri atas embrio-embrio yang kecil yang terbungkus selaput bening. Embrio ini yang kelak akan tumbuh menjadi tanaman. Buah anggrek merupakan buah kapsular. 
    Endosperm sebagai cadangan makanan pada biji yang diperlukan untuk perkecambahan dan pertumbuhan awal biji tidak terdapat pada biji anggrek. Sehingga di alam untuk pertumbuhannya memerlukan gula atau persenyawaan lain sebagai pengganti endosperm, yang dapat diperoleh apabila tanaman bersimbiose dengan mikorhiza.

    Suskandari K.
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman ± 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh
    • 16 Mei 2019

      Cyperus alternifolius L. (Cyperaceae)

      Nama Cyperus berasal dari bahasa Yunani, kypeiros yang berarti rumput, dan alternifolius merujuk pada susunan daun pelindung yang teratur.
      Tanaman Cyperus memiliki tinggi antara 1-2 m, bagian atas disusun oleh daun-daun pelindung yang menaungi rangkaian bunga. Letak daun pelindung C. alternifolius tidak berhadapan dengan tepi daun polos. Tulang daun sejajar dengan panjang 15 - 40 cm dan lebar 1,3 cm, tersusun secara radial. Bentuk bunga spikelet, membentuk klaster dan keluar dari
    • 15 Mei 2019

      ANJANI AGRIHORTI

      Gladiol Varietas Anjani Agrihorti merupakan hasil persilangan yang memiliki bunga dengan warna mahkota bagian atas perpaduan antara merah dan kuning yang disertai bercak merah pada kedua sisi helain mahkota.  Mahkota bagian bawah berwarna kuning pada bagian pangkal dan merah pada bagian tengah dan ujung terminal.  Lidah bunga berwarna merah dan kuning berseling pada bagian tepi dan terdapat bintik merah di bagian tengah lidah dan kuning pada bagian pangkal lidah
    • 14 Mei 2019

      ANTHURIUM PLOWMANII

      Anthurium adalah genus terbesar pada family Araceae dengan anggota lebih dari 1500 spesies (Mayo et al. 1997; Govaerts dan Frodin 2002). 
      Sistem klasifikasi anthurium menurut  Croat dan Sheffer (1983) terbagi menjadi 19 seksi, yaitu : Tetraspermium, Gymnopodium, Porphyrochitonium, Pachyneurium, Polyphyllium, Leptanthurium, Oxycarpium, Xialophyllium, Polyneurium, Urospadix, Episeiostenum, Digitinervium, Cardiolonchium, Chamaerepium, Calomystrium, Belolonchium,