• TEKNOLOGI PERBANYAKAN GERBERA SECARA IN-VITRO
  • ditulis tgl : 09 April 2018, telah dibaca sebanyak : 1019 kali


    Gambar malas ngoding
    Gerbera/hebras (Gerbera jamesonii Bolus) merupakan tanaman hias bernilai ekonomi tinggi, kaya warna, menarik dan atraktif., baik di dunia maupun Indonesia. Untuk menunjang pengembangan tanaman ini perlu didukung dengan penyediaan benih berkualitas dalam jumlah cukup dan berkesinambungan. Teknologi in vitro menggunakan tunas pucuk dan daun muda beresiko tinggi terhadap kematian tanaman induk dengan tingkat kontaminasi yang tinggi. Teknologi perbanyakan gerbera secara in vitro menggunakan kuncup bunga muda (KBM) dari tanaman induk terpilih, yang dipanen saat sepal/kalik menutup rapat hingga sedikit membuka, sehat, tidak ada tanda serangan hama-penyakit, sebagai sumber eksplan.

    KBM  dipanen pagi hari, dipra-sterilisasi dengan air mengalir 30-60 menit, 1% air sabun 30 menit, 1% bakterisida + fungisida 30 menit, bilas  dengan air bersih, betadine (20 tetes/100 ml) 5 menit, 0,05% HgCl2 5 menit dan bilas air steril. Setelah itu buang semua bagian bunga hingga tinggal penyangga bunga, iris bagian atas dan disterilisasi lanjut dengan 0,01% HgCl2 3 menit,  bilas air steril, potong jadi 4 bagian dan dikultur pada media MS + 0,4 mg/l TDZ dan 0,25 mg/l BAP. Inkubasi gelap 1 bulan, pindah ke terang 12 jam hingga tumbuh tunas adventif. Tunas diperbanyak melalui subkultur tunas pada medium MS + 0,2 mg/l BAP dan 0,02 mg/l NAA ; diakarkan pada medium MS + 2 g/l arang aktif dan diaklimatisasi pada campuran arang sekam + pupuk kandang (1:1, v/v).

    Potensi produksi benih 250 s/d 178.000 plantlets /18 bulan / 6 kali subkultur. Jiika kegagalan tahap perbanyakan 15 %, maka 210 s/d 150.000 plantlets siap aklimatisasi. Jika persentase kegagalan aklimatisasi 20%, maka total benih yang dihasilkan selesai tahap aklimatisasi adalah 168 s/d 120.000 tanaman yang berasal dari 1 sumber eksplan yang beregenerasi. Jika biaya eksplan (1,6 %), bahan sterilisasi (2 %), media (26,8 %), tenaga kerja (58,6 %), listrik (9 %) dan media aklimatisasi (2 %) mencapai Rp. 25.650.000,- maka biaya produksi per plantlet mencapai Rp. 213,- per tanaman. Jika dijual Rp. 750,- per tanaman saja, maka Rp. 90.000.000,- dihasilkan, keuntungan Rp. 64.000.000,- dalam 20 bulan, berarti Rp. 3.242.500,- /bulan. Teknologi ini telah berhasil diaplikasikan untuk perbanyakan beberapa varietas unggul baru (VUB) gerbera Balithi, VUB yang dikembangkan oleh petani dan klon-klon gerbera terseleksi Balithi dengan tingkat reproducibility dan repeatability berkisar antara 25-100% dan rata-rata mencapai  64,1%.


    Budi Winarto

    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk