• MENGENAL PENYAKIT KRISAN "LANAS DAUN PSEUDOMONAS"
  • ditulis tgl : 23 Maret 2018, telah dibaca sebanyak : 1310 kali


    Gambar malas ngoding
    Salah satu kendala biotik dalam peningkatan produksi tanaman hias adalah serangan penyakit. Penyakit pada tanaman hias merupakan kondisi dimana sel dan jaringan tanaman tidak berfungsi secara normal, yang ditimbulkan karena gangguan secara terus menerus oleh agen patogenik atau faktor lingkungan dan akan menghasilkan perkembangan gejala. Hal ini disebabkan adanya  hubungan yang saling menguntungkan antara tiga faktor yaitu; tanaman rentan, penyebab penyakit/patogen dan lingkungan. Perubahan lingkungan dapat disebabkan oleh perubahan yang dibuat manusia atau terjadi secara alami. Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan penyakit diantaranya iklim, pola tanam, varietas pemupukan, perubahan teknik budidaya dan penggunaan pestisida. Untuk bisa mempertahankan produksi maka penyakit tersebut perlu dikendalikan. Pengendalian dapat mencapai sasaran bila kita mengetahui sifat biologi penyakit yang bersangkutan.
    Tanaman krisan mudah terserang penyakit bila kelembaban terlalu tinggi atau bila tanaman dalam kondisi stress/tidak sehat.  Lingkungan yang lembab terjadi pada saat musim penghujan, atau karena kondisi lingkungan pertanaman rapat sehingga sirkulasi udara yang tidak berjalan lancar.  Beberapa penyakit yang sering dijumpai pada tanaman krisan dapat disebabkan oleh bakteri, fungi, nematoda dan virus.

    Lanas Daun Pseudomonas (Bakteri)

    Deskripsi
    Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas chicorii. Gejala penyakit ini berupa spot/bercak coklat kehitaman berair pada daun dan melebar hingga ke seluruh daun.  Spot ini seolah-olah mempunyai inti dan perlahan-lahan terpisah seperti gelombang.  Pada stadium serangan lebih lanjut, daun akan berwarna kecoklatan dan mengering.  Bakteri ini menyerang dengan intensitas tinggi bilamana kelembaban lingkungan pertanaman tinggi seperti pada musim hujan.  Bila serangan sudah parah, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian tanaman.  Penyakit ini sangat sulit dikendalikan bila sudah mulai menyerang. Penanganan kuratif 
    penyakit ini belum diketahui sampai saat ini. 

    Pengendalian
    Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan menanam bahan tanaman bebas penyakit, penyiraman dengan air yang tidak mengandung bakteri ini dan tidak membasahi daun terlalu lama, serta sanitasi lingkungan. Bilamana memungkinkan juga menghindari/meminimalkan aktifitas yang beresiko melukai tanaman.  Fungisida/bakterisida yang mengandung tembaga seperti yang berbahan aktif Cu-hidroksida juga dapat digunakan untuk pencegahan terutama pada saat musim serangan hebat.
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk