• MENGENAL HAMA UTAMA KRISAN
  • ditulis tgl : 13 Maret 2018, telah dibaca sebanyak : 1358 kali


    Gambar malas ngoding
    • Kutu Daun (Aphid):  Macrosiphoniella sanborni Gill, Ropalosiphum sp., dan Aphis gossypii Glov.
    Karakteristik biologi :
    Bentuk lonjong, Bagian badan dan perut lebih lebar dari pada bagian kepala, Ukuran panjang rataan 2 mm, M. Sanbornii berwarna cokelat tua mengkilat, sedangkan kutu yang lain berwarna hijau, Di daerah tropis, kutu daun berkembang biak dengan cara melahirkan serangga muda (nimfa) tanpa perkawinan, Nimfa dan kutu dewasa makan dengan cara menusukkan alat mulut ke dalam jaringan tanaman dan mengisap cairannya. Kutu daun menyebar dari tanaman satu ke tanaman lainnya dengan berjalan, bantuan angin atau aktivitas manusia. Kutu daun dapat berfungsi sebagai vektor virus Chrysanthemum Virus B (CVB) dan Chrysanthemum Vein Mottle (CVM).

    • Pengorok Daun (Leafminer) : Lyriomyza sp. (Phytomyza sp.)
    Karakteristik biologi :
    Serangga dewasa sejenis lalat kacang, kecil dan ramping, Sayap transparan mengkilat dengan rentang 2,25 mm dan terlipat di atas tubuhnya, Ukuran panjang badan rataan 1,52-2 mm, Serangga dewasa berwarna cokelat tua kehitaman, sedangkan telurnya berwarna putih agak transparan berukuran 0,2 0,3 mm, Serangga dewasa meletakan telur di dalam jaringan daun, setelah telur menetas larvanya berwarna agak orange dan makan jaringan daun, Pada saat akan berubah menjadi kempompong, larva membuat lubang untuk keluar.  
           
    Gejala serangan :
    Di bawah lapisan epidermis meninggalkan bekas korokan berdiameter 1,5 2 mm, Pada permukaan daun tampak saluran-saluran berwarna keperak-perak dengan bentuk tidak beraturan.


    • Trips : Trips parvispinus Karny., T. palmi Karny dan T. tabaci Lindeman
    Karakteristik biologi :
    Imago berukuran sangat kecil (panjang tubuh 1 1,8 mm), Serangga dewasa berwarna kuning pucat sampai cokelat kehitaman terdapat bercak-bercak merah atau bergaris-garis. Trips muda berwarna putih atau kekuning-kuningan, Serangga dewasa bersayap 2 pasang yang halus dan berumbai
    Gejala serangan       
    Pada permukaan daun bagian bawah terlihat bercak putih keperakan. Serangan berat menyebabkan daun, pucuk serta tunas mengeriting, melengkung ke atas dan timbul benjolan seperti tumor (Gambar 3).

    • Tungau  Merah (Mite) : Tetranychus sp.
    Karakteristik biologi :
    Tungau dewasa berwarna merah kecokelatan, semua stadia tungau dari telur hingga dewasa hidup di bawah permukaan bawah daun, karena tungau menghindari sinar mata hari. Tungau berukuran sangat kecil (+ 0,1 mm), berwarna hijau bening dengan bercak berwarna gelap pada kedua sisi tubuhnya. Betina dewasa mempunyai 4 pasang kaki (Gambar 4), sedangkan nimfa (tungau baru menetas) mempunyai 3 pasang kaki. Telur  berbentuk bundar berwarna bening mengkilat diletakan satu persatu pada daun bagian bawah. Tungau makan dengan cara menusukkan alat mulutnya ke dalam jaringan tanaman dan mengisap cairannya. 

    Gejala serangan Tungau :
    Pada permukaan daun bagian bawah terlihat bercak putih keperakan, yang kemudian berkembang menjadi bercak tidak beraturan. Serangan berat menyebabkan daun, pucuk serta tunas mengeriting, melengkung ke bawah (Gambar 5).

    • Ulat Grayak : Spodoptera litura F.

    Karakteristik biologi :
    Sayap ngengat bagian depan berwarna abu-abu hingga cokelat kemerahan dengan pola variasi warna yang kontras dengan garis warna, Telur berbentuk bulat, berwarna cokelat kekuningan dengan bagian datar melekat pada daun,
    Warna larva bervariasi, mempunyai tanda kalung dan bulan sabit berwarna hitam pada segmen abdomen yang ke-empat dan ke-sepuluh.

    Gejala serangan :
    Bagian tanaman yang diserang tampak robek bekas gigitan.

    • Ulat Tanah : Agrotis ipsilon Hufn.

    Karakteristik biologi :
    Ngengat menghindari cahaya matahari, bersembunyi di bawah permukaan daun, Larva berukuran panjang 4-5 cm berwarna cokelat kehitam-hitaman, juga menghindari sinar matahari dan bersembunyi di bawah permukaan tanah kira-kira sedalam 5-10 cm.  

    Gejala serangan :
    Bagian tanaman yang diserang (Biasanya batang tanaman muda) tampak patah bekas gigitan.


    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh