• PENGARUH KULTIVAR DAN ARSITEKTUR TANAMAN TERHADAP PRODUKSI DAN KUALITAS BUNGA MAWAR POTONG
  • ditulis tgl : 09 Maret 2018, telah dibaca sebanyak : 3294 kali


    Gambar malas ngoding
    ABSTRAK. Tujuan penelitian yaitu merakit teknologi budidaya Rosa hybrida L. untuk mendapatkan produksi dan kualitas yang tinggi. Penelitian diselenggarakan dalam rumah plastik di KP Segunung, Balai Penelitian Tanaman Hias,   1.100 m di apl pada 2009-2010. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah yang diulang tiga kali. Perlakuan petak utama kultivar mawar  ialah Grand Galla, Clarissa, Putri, Megawati, dan Megaputih. Anak petak arsitektur tanaman ialah tradisional Indonesia, soft pinching Belanda, dan bending Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar Megaputih memiliki jumlah petal bunga dan produksi bunga tertinggi. Kultivar Grand Galla mempunyai panjang tangkai bunga dan panjang neck bunga tertinggi.  Perlakuan soft pinching Belanda menghasilkan panjang tangkai bunga, diameter tangkai bunga, diameter bunga mekar, bobot tangkai bunga, jumlah daun, dan umur bunga tertinggi. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa perlakuan bending Jepang dan soft pinching Belanda dapat meningkatkan kualitas  bunga.
    Kata kunci : Rosa hybrida L., kultivar, arsitektur.



    Mawar (Rosa hybrida L.) merupakan bunga yang banyak diminati masyarakat. Kultivar baru diperlukan untuk menggantikan kultivar lama yang sudah kurang disenangi. Konsumen menginginkan tanaman mawar sebagai bunga potong yang mempunyai kualitas bunga baik, tangkai bunganya panjang (>45 cm) dan kokoh, kuntum bunga berukuran besar, jumlah petal yang banyak (>20 helai), kesegaran bunga yang lama (>4 hari), dan warna bunga yang cerah (Darliah et al. 2001). Orientasi perakitan kultivar baru mawar bunga potong adalah untuk memenuhi permintaan konsumen dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor benih dengan meningkatkan variasi warna bunga, produktivitas dan kualitas bunga. Kultivar-kultivar mawar bunga potong hasil rakitan dalam negeri (Balai Penelitian Tanaman Hias) perlu diuji dengan berbagai teknologi budidaya agar dapat diketahui kemampuan maksimalnya memproduksi bunga secara maksimal.
     Darliah et al. (2002) melaporkan bahwa kultivar Pertiwi terpilih sebagai bunga unggulan karena mempunyai jumlah bunga, panjang tangkai bunga, lama kesegaran, dan diameter bunga tidak berbeda nyata dengan kultivar impor Cherry Brandy. Darliah et al. (2010) juga melaporkan bahwa klon no. 41 (C.00421-01), yang sekarang disebut kultivar Clarissa mempunyai keunikan dalam warna bunga, yaitu merah cerah (red purple group 57A), tangkai bunga yang super panjang dan tegak, diameter kuncup dan diameter bunga mekar besar, dan jumlah petal lebih banyak dibandingkan kultivar pembanding Putri.
    Salah satu teknologi dalam budidaya mawar bunga potong untuk menjaga pertumbuhan vegetatif tanaman agar produksi dan kualitas bunga tinggi adalah membentuk arsitektur tanaman agar dapat memperoleh tangkai bunga yang panjang dan kokoh. Kim & Lieth (2004) melaporkan bahwa kanopi tanaman mawar yang dilakukan bending menghasilkan tangkai bunga yang lebih panjang dan biomas lebih tinggi pada dua kultivar Kardinal dan Fire N Ice. Beberapa sistem arsitektur tanaman yang dikenal adalah  sistem tradisional Indonesia, sistem Belanda yang meliputi soft pinching dan hard pinching, dan sistem bending Jepang.  Selain sistem tradisional Indonesia, sistem arsitektur yang lain dapat meningkatkan produksi bunga (de Vries, 1993). Penerapan sistem arsitektur tradisional dilakukan dengan membiarkan tanaman mawar tumbuh secara alami, dan panen bunga dengan memotong tangkai sepanjang lebih dari 40 cm. Dalam sistem arsitektur tanaman selain tradisional dilengkapi dengan bending yaitu tunas utama dan tunas-tunas tidak produktif  diikat dengan kawat dan dilekatkan ke permukaan tanah. Perlu juga dilakukan soft pinching umum, yaitu pemetikan kuncup bunga dari seluruh tunas yang tidak produktif. Cara tersebut akan merangsang pertumbuhan tunas bottom break. Tunas bottom break adalah tunas produktif yang dapat menghasilkan bunga bermutu baik. Mutu mawar bunga terutama ditentukan karakter ukuran bunga, warna bunga, panjang tangkai bunga, dan duri (de Vries dan Dubois 1977). Tejasarwana dan Winarto (2001) melaporkan bahwa sistem arsitektur Jepang yang diterapkan pada klon C-91012-5, C-91023-1, dan  Cherry Brandy terbukti dapat meningkatkan panjang tangkai bunga menjadi 51,7 cm, diameter kuncup bunga menjadi 18,4 mm dan bobot bunga menjadi 16,1 g/tangkai. Penerapan sistem ini dapat menghasilkan bunga dengan kualitas AA dan A terbaik (16,5 dan 16,5 %) diikuti arsitektur tanaman hard pinching Belanda, terendah sistem tradisional Indonesia (0 dan 13,7 %).
    Pada umumnya petani mawar tradisional belum biasa menerapkan teknologi arsitektur tanaman. Selain itu petani banyak bergantung pada benih mawar potong yang berasal dari impor (Supriadi et al., 2008). Untuk mengatasi permasalahan ini perlu dilakukan penelitian tanggap kultivar-kultivar baru rakitan Balai Penelitian Tanaman Hias terhadap berbagai sistem arsitektur tanaman.  Darliah et al. (2002) melaporkan bahwa cv. Pertiwi mempunyai potensi produksi 1,77-2,40 tangkai bunga/tanaman/bulan atau 159,3-216 tangkai/m2/6 bulan. Darliah et al. (2010) melaporkan bahwa klon no. 66 (NI.16-1) dengan petal berwarna merah mempunyai potensi produksi 1,4 tangkai/tanaman/bulan atau 126 tangkai/m2/6 bulan. Tejasarwana & Rahardjo (2009) melaporkan penelitiannya,  cv Grand Gala, jarak tanam 30 cm x 20 cm, arsitektur tanaman bending Jepang menghasilkan 55,68 tangkai/petak/5 bulan atau 69,6 tangkai/m2/6 bulan. Berdasarkan latar belakang dan pertimbangan di atas, hipotesis yang diajukan  ialah produksi dan kualitas kultivar-kultivar mawar rakitan Balithi dapat ditingkatkan menggunakan teknologi arsitektur tanaman bending Jepang dan soft pinching Belanda.
    Adapun tujuan dari penelitian ini ialah meningkatkan produksi dan kualitas bunga mawar potong melalui penggunaan kultivar mawar Balithi dan penerapan sistem arsitektur tanaman. Kualitas bunga yang baik adalah tangkai bunga yang panjang, diameter bunga dan neck tinggi, bobot bunga tinggi, dan duri sedikit.
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk