• PANDUAN TEKNIS BUDIDAYA KRISAN BUNGA POTONG
  • ditulis tgl : 05 Maret 2018, telah dibaca sebanyak : 3127 kali


    Gambar malas ngoding
    Tempat Penanaman
    Di lahan sawah bekas pertanaman padi, tebu atau sayuran dengan ketinggian minimal 600 mdpl.
    Pembuatan Rumah Lindung
    Kerangka rumah lindung pertanaman krisan dapat terbuat dari bambu atau kayu dengan atap plastik UV.  Bagian samping rumah lindung tertutupi dengan kasa/paranet 65 % (atau insect screen).  Ketinggian jajar rumah lindung minimal 3 m dari atas permukaan tanah.

    Pengolahan Tanah
    • Tanah diolah sempurna dengan mencangkul lapisan tanah dengan kedalaman 20 25 cm.  Sisa kotoran dan gulma dibuang keluar areal pertanaman.  Tanah dikeringanginkan selama 2 3 minggu tanpa diberi air.  Hal ini dimaksudkan untuk memberikan efek solarisasi cahaya matahari terhadap areal pertanaman.  Setelah itu, tanah dicangkul kembali dan sisa gulma yang masih tumbuh dibuang. 
    • Bedengan-bedengan pertanaman dibuat dengan mencangkul tanah dengan mencampurkan humus bambu/sekam yang telah terdekomposisi sempurna sebanyak - 1 karung/m2, dan kapur pertanian dengan dosis 1 3 ton/ha atau 100 300 g/m2.  Ukuran bedengan pertanaman dalam rumah lindung adalah sebagai berikut :
    1. Lebar bedengan adalah 120 cm (1,2 m) dengan panjang searah (disesuaikan) dengan panjang rumah lindung.
    2. Jarak antar bedengan adalah 40 50 cm.
    3. Tinggi bedengan adalah 20 25 cm.
    Pemupukan
    1. 1.  Seiring dengan pengolahan tanah dan pembentukan bedengan, aplikasi pupuk dasar dapat dilakukan dengan menggunakan: (1) Pupuk kandang yang telah matang sempurna sebanyak 30 ton/ha atau 3 kg/m2. (2) Pupuk kimia berupa Urea dengan dosis 250 kg/ha atau 25 g/m2,  SP 36 sebanyak 40 kg/ha atau 40 g/m2, dan KCl sebanyak 350 kg/ha atau 35 g/m2. Atau NPK (16:16:16) 1 ton/ha (100 g/m2).
    2. Pemupukan lanjutan dilakukan pada saat tanaman berumur 2, 4 dan 6 minggu dengan menggunakan Urea sebanyak 1,5 2 g/m2 dan KNO3 sebanyak 6 g/m2.
    3. Pemupukan lanjutan berikutnya diberikan setelah tanaman berumur 8 minggu berupa Urea sebanyak 1,5 g/m2, KNO3 sebanyak 6 g/m2 dan SP 36 sebanyak 3 g/m2.
    4. Pupuk daun diaplikasikan mulai saat tanam hingga satu minggu menjelang panen dengan frekuensi 2 kali seminggu sesuai dosis anjuran dalam kemasan.

    Bahan Tanam/Benih
    Bahan tanam berupa stek yang telah berakar yang seragam dan telah melalui proses pengakaran    12 18 hari.
    Penanaman
    Penanaman dilakukan pagi atau sore hari dimana kondisi belum/tidak lagi panas karena terik matahari untuk mencegah kematian tanaman yang tinggi.  Stek-stek berakar ditanam pada lahan bedengan dengan kerapatan tanam 100/m2 atau dengan jarak tanam 10 x 10 cm.
    Pemberian air

    • Sehari sebelum tanam, bedengan sebaiknya diberi air hingga basah (dileb) tapi tidak menggenang.
    • Setelah penanaman, air diberikan setiap hari hingga tanaman berumur 10 14 hari atau tergantung kondisi kelembaban tanah untuk menghindarkan kematian tanaman muda.
    • Setelah tanaman berumur 14 hari, penyiraman dapat dilakukan 2 3 hari sekali tergantung kondisi pertanaman.

    Pemberian Jaring Penegak Tanaman

    • Jaring penegak tanaman berfungsi untuk membantu tumbuh tegaknya tanaman/agar tidak roboh.
    • Jaring penegak terbuat dari tambang plastik dengan ukuran lobang 10 x 10 cm memanjang searah panjang bedengan.
    • jaring penegak biasannya dipasang sebelum penanaman dan dan perlahan-lahan dinaikkan seiring dengan tinggi tanaman.

    Pemberian Cahaya Tambahan

    • Pemberian cahaya tambahan dilakukan pada malam hari selama 4 5 jam/hari, mulai pukul 22.00 hingga 03.00.
    • Pemberian cahaya tambahan dilakukan setiap hari dari awal tanam hingga tanaman berumur 30 hari atau bila ketinggian tanaman telah mencapai 50   55 cm, tergantung jenis varietas. Apabila tinggi mencapai 50 cm lampu dapat dimatikan, dan jika tanaman belum mencapai   50 cm maka periode pencahayaan dapat ditambah hingga tanaman mencapai 50 cm.
    • Setelah 30 hari, pemberian cahaya tambahan pada malam hari dihentikan.
    • Rangkaian titik-titik lampu untuk aplikasi pemberian cahaya tambahan adalah:
    • Jarak titik lampu dari bedengan (ketinggian lampu dari bedengan) adalah 1,5 m.
    • Jarak antar lampu dalam bedengan adalah 2 m.
    • Lampu yang dipergunakan adalah lampu LED warna kuning dengan kekuatan 18 (setara 75 watt)  atau 23 (setara 100 watt) watt/titik atau jenis lampu lain yang mempunyai intensitas cahaya yang sama.

    Pengendalian Hama dan Penyakit

    • Penyemprotan fungisida (Daconil, Antracol, Dithane M 45 atau Score) rutin 2 kali seminggu untuk penyakit karat dan bercak daun sesuai dosis anjuran dalam kemasan.
    • Penyemprotan insekstisida (Agrimec, Confidor dan Decis) rutin 2 kali seminggu untuk hama ulat, tungau atau kutu daun sesuai dosis anjuran dalam kemasan.
    • Sangat dianjurkan pemakaian fungisida dan insektisida yang berselang-seling jenisnya pada setiap kali penyemprotan.
    • Bila saat tanam ditemukan adanya serangan ulat tanah atau siput telanjang, maka perlu diberi umpan bekatul yang dicampur dengan gula merah dan insektisida.  Pemberian umpan ini perlu dipastikan efektifitas umpan tersebut.

    Perompesan

    • Perompesan dilakukan untuk menghilangkan tunas-tunas lateral kecil yang tumbuh pada buku-buku batang bagian bawah.
    • Pada krisan tipe standar, bunga yang tumbuh pada apikal dibiarkan tumbuh membesar.  Sedangkan bakal-bakal bunga yang tumbuh pada ketiak daun pada buku-buku batang bawah dibuang agar tidak mengganggu pertumbuhan bunga yang dipelihara.

    Panen

    • Pada bunga krisan tipe spray, kriteria waktu panen adalah bila 70 persen bunga telah mekar.
    • Panen dilakukan pagi hari, dimana tanaman dalam stadia vigor dan turgiditas yang tinggi.
    • Panen dilakukan dengan memotong batang tanaman kira-kira 5 cm dari atas permukaan tanah dengan menggunakan gunting potong.
    • Pada bunga krisan tipe standar, bunga dibungkus dengan menggunakan kertas seperti corong dengan bagian atas corong terbuka untuk menghidarkan kerusakan bunga saat panen dan proses pasca panen.
    • Setelah dipotong, tanaman harus segera diletakkan pada ember yang telah berisi air dan ditempatkan pada tempat yang teduh untuk menghindarkan kelayuan dini tanaman.

    Pasca Panen

    • Ember-ember yang telah berisi tangkai-tangkai bunga dibawa ke ruang sortasi.
    • Sortasi dilakukan untuk membuang bagian tanaman seperti daun atau ranting yang rusak secara fisik akibat perlakuan saat panen maupun akibat serangan organisme pengganggu tanaman.
    • Bunga-bunga tersebut dikelompokkan sesuai dengan kualitas dan keseragaman bunga.
    • Tangkai-tangkai bunga itu kemudian diikat dengan menggunakan karet pada bagian pangkalnya.  Satu ikatan berisi 10 tangkai bunga dan kemudian dibungkus dengan kertas seperti corong dengan bagian atas terbuka untuk mempertahankan kesegaran bunga.
    • Bunga-bunga inipun sudah siap dipasarkanatau dikirim ke tempat penampungan atau langsung ke konsumen.
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk