• BUDIDAYA KRISAN POT
  • ditulis tgl : 28 Februari 2018, telah dibaca sebanyak : 3129 kali


    Gambar malas ngoding
    Krisan pot merupakan tanaman pot yang banyak diminati konsumen. Terdapat 3 jenis krisan yang digunakan sebagai bahan tanaman untuk budidaya krisan pot, yaitu :
    1. krisan potong yang dibudidayakan sebagai krisan pot. Untuk jenis ini, budidaya krisan pot harus menggunakan perlakuan zat pengatur tumbuh paclobutrazol atau alar dengan tujuan untuk mengatur tinggi tanaman agar sesuai dengan kriteria tanaman pot. Kriteria krisan pot ialah tanaman berpenampilan kompak, pendek dan rimbun yang serasi dengan wadahnya (pot).
    2. krisan pot yang memang jenis krisan yang pendek. Budidaya krisan pot yang menggunakan jenis krisan tipe pot yang memang sudah pendek bisa dilakukan dengan mengurangi penggunaan perlakuan zat pengatur tumbuh paclobutrazol atau alar. Penggunaan zat pengatur tumbuh paclobutrazol atau alar dapat dilakukan dengan tujuan untuk keserempakan bunga dan menghasilkan warna daun yang lebih gelap (hijau tua).
    3. Krisan tipe garden mum. Krisan garden mum merupakan jenis krisan yang pendek dengan produksi cabang yang banyak. Budidaya krisan pot tipe garden mum dilakukan seperti pada krisan pot jenis krisan yang pendek (nomor 2). 


    1. Tanaman Induk
    Penanaman dan pemeliharaan tanaman induk sumber benih untuk krisan pot sama dengan pada krisan potong. Pengolahan lahan dilakukan dengan mencangkul tanah sedalam 30 cm, kemudian dibuat bedengan dengan ukuran 100 120 cm dan tinggi 20 30 cm. Selanjutnya dilakukan pemberian pupuk kandang dengan dosis 30 ton/ha dan humus bambu 10 ton/ha. Pemberian pupuk dasar berupa urea 200 kg/ha, KCl 350 kg/ha dan SP 36 300 kg/ha. Jika lahan diduga mengandung penyakit tular tanah maka sterilisasi dapat dilakukan dengan menggunakan basamid dengan dosis sesuai anjuran, kemudian bedengan ditutup dengan plastik kedap udara selama 2-3 minggu.  Penanaman tanaman induk dilakukan dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm (25 tanaman/m2). Pemupukan lanjutan diberikan satu kali sebulan berupa urea 15 g dan KNO3 25 g untuk setiap m2. Pupuk cair dengan N tinggi diberikan seminggu sekali dengan dosis 2g/l. Pemberian penyinaran tambahan dilakukan selama 4 jam mulai pukul 10.00 02.00. Panen setek pucuk untuk benih diambil dari tunas aksilar yang telah mempunyai 6-7 daun sempurna. Setek pucuk dipotong diatas daun ke-4 dari pangkal batang dan setek mempunyai 2-3 daun sempurna. Benih dengan mutu yang bagus merupakan benih yang sehat, bebas hama penyakit, tidak mengalami gangguan fisiologis dan mempunyai daya tumbuh yang tinggi. 

    2. Benih krisan
    Setek pucuk krisan sepanjang 7 cm. Lakukan perompesan pada setek hingga tersisa 2-3 daun dewasa. Celupkan pangkal batang setek pada larutan ZPT pengakaran (Rootone F, Root up). Akarkan pada media pengakaran (sekam bakar, sekam bakar+humus bambu halus). Selama pengakaran setek diberi perlakuan hari panjang. Selama periode pengakaran dijaga kelembaban lingkungan.

    3. Media tanam krisan pot
    Media tanam harus gembur, memiliki aerasi yang baik, dan mampu menahan air. Terdapat berbagai macam pilihan media tanam, yaitu : gambut + serbuk sabut kelapa + sekam bakar = 1:1:1, sekam bakar + humus bambu halus + pupuk kandang = 1:1:1, sekam bakar + humus bambu halus + kompos + tanah = 1:1:1:1, sekam bakar + gambut = 2:1, dll. Pertimbangan pemilihan media antara lain adalah ringan, mudah didapat, dan harga terjangkau.

    4. Penanaman krisan pot
    Krisan pot yang umum dijual di pasaran biasanya ditanam dengan menggunakan pot plastik berukuran diameter 15 cm atau 17 cm. Untuk pot diameter 15 cm ditanam 5 6 setek krisan. Jumlah setek ini tergantung pada jenis krisan yang ditanam, jika memiliki tajuk yang kecil maka jumlah setek yang ditanam dalam satu pot harus lebih banyak agar tanaman tetap terlihat rimbun. Formasi tanam adalah 1 + 4 (1 setek ditanam di tengah, 4 setek di pinggir), jika lebih dari 5 setek formasi tetap 1 setek di tengah pot dan yang lain di pinggir pot.

    5. Pinching
    Pinching adalah membuang titik tumbuh terminal dengan tujuan untuk merangsang tumbuhnya tunas lateral. Dari satu setek yang telah dipinching diharapkan dapat tumbuh 3-4 tunas lateral. Pinching dilakukan sekitar 5-10 hari setelah tanam (5-7 hari untuk tipe krisan potong, 8-10 hari untuk tipe krisan pot), melihat kondisi tanaman. Pinching dilakukan dengan memotong titik tumbuh terminal tanaman dan menyisakan 4-5 daun dibawahnya.

    6. Pemberian hari panjang
    Lama periode pemberian hari panjang pada tanaman krisan pot dilakukan dengan melihat kondisi tanaman, jika tanaman telah memiliki tunas lateral sekitar 2-3 cm maka pemberian hari panjang dihentikan, umumya sekitar 7 14 hari setelah tanam di pot. Pemberian hari panjang dilakukan dengan penyinaran selama 4 jam (atau bisa lebih) setiap malam dengan menggunakan lampu essensial 18 watt atau lampu pijar 100 watt.

    7. Penyiraman, pemupukan dan pengendalian HPT
    Penyiraman dapat dilakukan dengan sistem perendaman, drip atau overhead. Pada fase vegetatif tanaman diberikan pupuk dengan N tinggi (Growmore 32-10-10, Rosasol, Bioleaf), pada saat fase generatif tanaman diberikan pupuk P dan K tinggi. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai kondisi tanaman, untuk pencegahan dilakukan seminggu sekali.

    8. Disbudding
    Berdasarkan jumlah bunga dalam satu tunas/cabang, terdapat 2 tipe krisan pot yaitu tipe standar dan tipe spray.
    • Pada krisan pot dengan tipe standar, pada satu tunas/cabang akan dipelihara satu bunga yaitu bunga terminal. Maka dilakukan disbudding atau pembuangan kuncup-kuncup bunga lateral. 
    • Pada krisan pot dengan tipe spray, pada satu tunas/cabang akan dipelihara 3-6 bunga. Maka dilakukan disbudding atau pembuangan kuncup bunga terminal dan kuncup-kuncup bunga lateral yang terletak dibawah. Pembuangan kuncup-kuncup bunga ini harus dilakukan saat kuncup bunga masih kecil agar penampilan tanaman bagus.

    9. Panen
    Krisan pot dengan tipe bunga spray dapat dipanen pada saat bunga telah mekar 60-70%. Pada krisan pot dengan tipe bunga standar panen dilakukan saat bunga telah mekar. Pengemasan krisan pot dapat dilakukan dengan menggunakan plastik transparan ataupun kertas.

    10. Pemberian ZPT paclobutrazol atau alar
    Untuk mengatur tinggi tanaman krisan pot agar diperoleh tinggi yang sesuai dengan kriteria tanaman pot, dapat dilakukan dengan penyemprotan ZPT paclobutrazol atau alar. Dosis dan konsentrasi penggunaan ZPT paclobutrazol atau alar ini berbeda-beda untuk setiap varietas krisan. Penyemprotan pertama dapat dilakukan sekitar 1 minggu setelah memasuki hari pendek dengan dosis 1 cc/l atau 1g/l. Setelah penyemprotan pertama dilihat respon tanaman untuk menentukan apakah diperlukan lagi pemberian ZPT atau tidak. Jika pucuk tanaman telah memperlihatkan warna hijau tua pemberian ZPT dihentikan.
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk