Budidaya Krisan Bunga Potong (Part 1)


Diupload oleh : Wisnu Ardi Pratama
12 Februari 2018  |  Kategori :Info Penelitian - Dibaca 576 kali






SYARAT TUMBUH TANAMAN KRISAN
Krisan umumnya dibudidayakan dan tumbuh baik di dataran medium sampai tinggi pada kisaran 650 hingga 1.200 m dpl.  Di habitat aslinya, krisan merupakan tanaman yang bersifat menyemak dan dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 30 200 cm.  Berdasarkan siklus hidupnya, krisan dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu krisan semusim (hardy annual) dan krisan tahunan (hardy perennial) . Tanaman krisan yang dibudidayakan saat ini merupakan krisan modern hasil  hibridisasi, seleksi dan rekayasa genetik yang telah dilakukan para pemulia krisan sejak lama, sehingga kebanyakan krisan modern ini bersifat poliploid dan secara genetik sangat heterogen.  Perubahan-perubahan yang terjadi pada krisan modern ini terutama pada karakter ketahanan terhadap stress lingkungan, hama dan penyakit, atau kualitas bunga seperti warna, bentuk serta tipe bunga. Di Indonesia, budidaya krisan umumnya dilakukan di dalam rumah lindung yang dapat berupa rumah kaca atau rumah plastik. Rumah lindung ini berfungsi untuk memberikan kondisi lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman krisan yang optimal.  Modifikasi lingkungan tumbuh pun dapat dilakukan melalui penerapan teknik budidaya yang sesuai hingga memberikan iklim mikro yang optimal untuk pertumbuhan tanaman dan mengurangi pengaruh negatif lingkungan seperti intensitas cahaya matahari yang tinggi, terpaan air hujan langsung dan amplitudo suhu harian yang tinggi serta serangan serangga hama dan patogen.  

Di dalam rumah lindung, tanaman krisan ditanam pada bedengan dengan jarak tanam  tertentu.  Menurut International Chry santhemum Society (2002), tanaman krisan tumbuh baik di tanah bertekstur liat berpasir, dengan kerapatan jenis 0,2 - 0,8 g/cm3 (berat kering), total porositas 50 75 %, kandungan air 50 - 70 %, kandungan udara dalam pori 10 20 %, kandungan garam terlarut 1 1,25 dS/m2 dan kisaran pH sekitar 5,5 6,5.  Kondisi ini dapat dicapai dengan memodifikasi media tumbuh dalam bedengan.  Putrasamedja dan Sutapraja (1989) mengemukakan bahwa media tumbuh berupa campuran tanah, humus bambu dan pupuk kandang (1:1:1) memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan tanaman dan diameter bunga yang maksimal dan seragam.  Krisan berasal dari daerah subtropis, sehingga suhu yang terlalu tinggi merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman.  Krisan dapat tumbuh pada kisaran suhu harian antara 17 sampai 30 oC. Pada fase vegetatif, kisaran suhu harian 22 sampai 28 oC pada siang hari dan tidak melebihi 26 oC pada malam hari dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal krisan (Khattak dan Pearson, 1997). Suhu harian ideal pada fase generatif adalah 16 sampai 18 oC (Wilkins et. al ., 1990).  Menurut Maaswinkel dan Sulyo (2004) pada suhu di atas 25 oC, proses inisiasi bunga akan terhambat dan menyebabkan pembentukan bakal bunga juga terlambat.  Suhu yang terlalu tinggi juga mengakibatkan bunga yang dihasilkan cenderung berwarna kusam, pucat dan memudar. Berdasarkan tanggap tanaman terhadap panjang hari, krisan tergolong tanaman berhari pendek fakultatif.  Batas kritis panjang hari ( Critical Daylenght -CDL) krisan sekitar 13,5 16 jam tergantung genotipe (Langton, 1987).

Krisan akan tetap tumbuh vegetatif bila panjang hari yang diterimanya lebih dari batas kritisnya dan akan terinduksi untuk masuk ke fase generatif (inisiasi bunga) bilamana panjang hari yang diterimanya kurang dari batas kritisnya.  Mendasarkan pada sifat sensitif krisan terhadap panjang hari, modifikasi lingkungan berupa penambahan cahaya dengan menggunakan lampu pada malam hari perlu dilakukan pada budidaya krisan potong, untuk memperoleh tinggi tanaman yang diharapkan (fase vegetatif) sebelum berbunga.  Hubungan antara lama periode hari panjang terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada krisan disajikan pada gambar 1. Langton (1987) mengemukakan lebih lanjut bahwa kepekaan krisan terhadap panjang hari tidak tetap.  Pengaruh panjang hari terhadap fisiologi pembungaan krisan sering kali berinteraksi dengan suhu harian.  Pada kondisi hari panjang dengan suhu siang hari sekitar 22 oC dan 16 oC pada malam hari, penambahan tinggi tanaman dan pembentukan daun berjalan optimal.  Induksi ke  fase  generatif  akan  terjadi bila suhu  pada siang hari turun kurang dari 18 oC (Lint dan Heij, 1987)  dan  suhu  malam  naik  hingga  lebih  dari  25 oC  (Wilkins et. al , 1990).  Namun keadaan ini sangat jarang diketemukan pada dataran medium hingga tinggi di Indonesia.

Selain suhu dan panjang hari, kualitas cahaya juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman krisan. Jumlah reseptor cahaya/photoreseptor ( phytochrome ) merah (Pr) dan merah jauh (Pfr) pada daun pun turut berperan pada proses fisologis pembungaan tanaman krisan.  Belum diketahui secara pasti mekanisme kerja photoreseptor ini pada perubahan fisologis tanaman.  Beberapa ahli memperkirakan bahwa mekanisme kerja photoreseptor berhubungan dengan ritme circadian ( circadian rythme ) tanaman.  Kedua bentuk photoreseptor (Pr dan Pfr) bisa berkonversi satu sama lain tergantung jenis sinar yang diterimanya. Bila tanaman menerima lebih banyak sinar merah, maka Pr akan terkonversi menjadi Pfr dan menyebabkan jumlah Pfr bertambah, begitu pula sebaliknya. Konversi Pr menjadi Pfr pun dapat terjadi bila tanaman berada pada fase gelap (De Jong, 1980).  Dan bila jumlah Pfr lebih banyak dari Pr pada selang waktu tertentu, maka pertumbuhan apikal ( apical dominace ) akan terhenti dan tanaman terinduksi ( evocation ) ke fase generatif (Decoteau et. al. , 1997). Kelembaban udara juga berpengaruh terhadap pertumbuhan bunga krisan.  Tanaman krisan membutuhkan kelembaban 90 95% pada awal pertumbuhan untuk pembentukan akar.  Sedangkan pada tanaman dewasa, pertumbuhan optimal dicapai pada kelembaban udara sekitar 70 85% (Mortensen, 2000).  Menurut Maaswinkel dan Sulyo (2004), evapotranspirasi pada pertanaman krisan pada saat matahari penuh (musim kemarau) dapat mencapai 5 - 7 liter/m2/hari.  Evapotranspirasi maksimum ini tercatat pada saat tanaman mencapai tinggi sekitar 25 cm pada bedengan.
 
 
Berita Terkait

INFORMASI PENGUNJUNG :

AGENT : CCBot/2.0 (http://commoncrawl.org/faq/)
IP PUBLIK : 54.159.94.253

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Perencanaan Pembangunan KP. Serpong Tahap II. Silahkan diunduh: [Perencanaan Pembangunan KP. Serpong Tahap II], Terima Kasih.

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Perencanaan Renovasi Bangunan Guest House Segunung Balithi. Silahkan diunduh: [Perencanaan Renovasi Bangunan Guest House Segunung Balithi], Terima Kasih.

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Pemenang Lelang Pengadaan Alat Laboratorium. Silahkan diunduh: Pengumuman Pemenang Lelang, Terima Kasih.

Informasi Publik

  • Tersedia Setiap Saat
    Informasi yang Wajib Tersedia Setiap Saat, sebagaimana tercantum dalam Undang-undang RI no 14 ... [download file]
  • Disediakan dan Diumumkan Secara Berkala
    Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan Secara Berkala sebagaimana tercantum dalam ... [download file]
  • Diumumkan Secara Serta Merta
    Informasi yang Wajib Diumumkan secara Serta-merta sebagaimana tercantum dalam Undang-undang RI ... [download file]

Sekilas info


Info Kerjasama

  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Agribisnis dan Wisata... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Varietas Tanaman... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Tanaman Hias di Kabupaten... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Kawasan Agribisnis dan Agrowisata di... [detail]
daftar kerjasama penelitan pertahun