• KUNJUNGAN SMU SULUH JAKARTA DALAM RANGKA STUDY TOUR BUDIDAYA TANAMAN HIAS
  • ditulis tgl : 07 Februari 2018, telah dibaca sebanyak : 1959 kali


    Gambar malas ngoding
    Pada tanggal 30 Januari Balai penelitian tanaman kedatangan tamu dari SMU SULUH jakarta dalam rangka Study Tour Budidaya Tanaman Hias. Dalam kunjungan kali ini SMU SULUH membawa sekitar lebih dari 265 siswa kelas 11 beserta beberapa guru pendamping. Antusiasme para siswa dalam mempelajari ilmu tanaman hias sangatlah nampak dari banyaknya pertanyaan yang ditujukan kepada para peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Hias

    Bapak. Saefudin selaku Kepala Sekolah SMU SULUH mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang sengaja dilakukan dalam rangka memberikan edukasi kepada para siswa mengenai budidaya tanaman pertanian, dan kali ini yang menjadi sasaran pembelajaaran adalah tanaman hias. Kepala SMU SULUH juga mengharapkan di waktu yang hanya satu hari ini para siswa mampu menyerap semua ilmu yang telah diberikan oleh para peneliti dan teknisi dari Balai Penelitian Tanaman Hias.

    Dari Balithi Sendiri yang langsung menerima Kunjungan adalah Prof. Dr. Ika Djatnika, MS dan juga Dr.  Erniawati Diningsih, SP MSi serta 10 tenaga teknisi. Dalam sambutannya Prof. Ika Djatnika mengatakan bahwa Balai Penelitian Tanaman Hias selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin belajar mengenai ilmu tanaman Hias. Secara Singkat pula Prof Ika Djatnika menjelaskan mengenai Profil balai Penelitian Tanaman Hias yang kemudian dilanjutkan dengan pemutaran Profil Balithi.

    Setelah sesi diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan dan prakek di lapang. Para Siswa SMU SULU diajak untuk melihat beberapa kolksi tanaman Hias yang ada di Agrowidya Wisata milik Balithi. Disini siswa dapat secara langsung melihat dan sekaligus bertanya kepada para teknisi yang mendampingi.

    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk