• BUNGA KRISAN TIDAK HANYA INDAH .. ..
  • ditulis tgl : 17 Januari 2017, telah dibaca sebanyak : 4159 kali


    Gambar malas ngoding
    Implementasi Dukungan Inovasi dalam Pengembangan Kawasan Agribisnis Tanaman Hias:

    Kolonial tentu akrab di telinga Anda sebagai zaman penjajahan. Era pahlawan negeri ini berjuang menegakkan Merah Putih selama lebih dari 3,5 abad. Rentetan tahun yang menyimpan pilu dan kesedihan mendalam karena kolonial tentu meninggalkan dampak negatif. Sisi positifnya, adanya reformasi pendidikan, cara bercocok tanam yang lebih modern, dan munculnya tumbuhan baru di Indonesia.

    Salah satunya adalah tanaman Krisan. Sebelum berkenalan dengan Krisan, apa istimewanya tanaman yang dibawa oleh ahli botani Belanda ini? Krisan merupakan salah satu komoditas tanaman hias utama di dunia, yang berasal dari Asia Timur. Namun, dikembangkan ke seluruh belahan dunia termasuk Eropa, Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara.

    Perkenalan Singkat dengan Krisan

    Krisan, dibawa oleh ahli botani Belanda dan diperkirakan masuk ke wilayah Indonesia sekitar 1920-an. Dua dekade kemudian, Krisan mulai dikembangkan di berbagai dataran tinggi di Indonesia. Hingga 1960, usaha budidaya Krisan secara tradisional di lahan terbuka mulai berkembang di daerah tersebut untuk menghasilkan bunga potong. Sekitar 1980-an, usaha Krisan berkembang menjadi skala industri yang dimotori PT Alam Indah Bunga Nusantara di Cipanas-Cianjur.

    Saat itu, perusahaan tersebut mengadopsi teknologi Krisan dari Belanda, dan mendapat bimbingan langsung dari para ahli Krisan Belanda. Namun, ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, para pengusaha Krisan tak lagi mampu mengimpor sarana produksi, termasuk benih dari negara lain karena tingginya nilai mata uang asing. Mereka mulai beralih menggunakan sarana produksi, termasuk varietas dan benih yang dihasilkan oleh para peneliti di dalam negeri.

    Gaya Hidup Krisan: Sumber Devisa Negara

    Era jatuh bangun Krisan telah usai. Produksi Krisan terus meroket dalam 10 tahun terakhir sejalan dengan meningkatnya kebutuhan di dalam negeri. Direktorat Jenderal Hortikutura pada 2014 menyebutkan, bunga potong Krisan menduduki peringkat pertama terhadap total produksi bunga potong nasional sebesar 57,67%, disusul Mawar 23,36%, Sedap Malam 14,12%, dan Anggrek 2,66%.

    Peningkatan produktivitas Kristan didorong oleh tersedianya teknologi yang lebih efisien, dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia yang mengarah pada budaya penggunaan bunga. Faktor lainnya, berkembangnya sektor pariwisata yang menjadikan tanaman hias sebagai elemen penting pendukung industri wisata di berbagai daerah. Selain itu, Krisan dikenal sebagai komoditas yang memiliki cabang industri luas. Di antaranya dapat dikembangkan untuk bahan kosmetik, teh, produk herbal, insektisida botani, dan lainnya. 

    Peningkatan usaha budidaya Krisan perlu didorong agar memberikan dampak lebih signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi makro di dalam negeri. Salah satu upayanya yaitu melalui penerapan Pengembangan Kawasan Agribisnis Florikultura. Kementerian Pertanian (Kementan) telah menetapkan Pengembangan Kawasan Agribisnis Florikultura sebagai program utama  pembangunan komoditas unggulan daerah yang dimaksudkan untuk a) menghasilkan produk skala massal yang bermutu tinggi; b) Memudahkan pengelolaan rumpun usaha yang serupa ke dalam satu unit usaha yang terintegrasi; c) menghimpun tenaga kerja yang  terampil dan terspesialisasi; d) melakukan pemusatan investasi, input dan jasa-jasa; e) mengembangkan jaringan pemasaran, dan f) mengembangkan inovasi spesifik lokasi dan spesifik komoditas sesuai kebutuhan. Tentunya  program tersebut perlu didukung oleh penerapan inovasi secara berkelanjutan, untuk membangun sistem produksi yang tangguh sehingga Krisan dapat dimanfaatkan sebagai sumber devisa.

    Penerapan dukungan inovasi dalam kawasan agribisnis Krisan diharapkan dapat meningkatkan muatan inovasi dalam sistem agribisnis Krisan yang berbasis sumber daya lokal, dan pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas produksi, kualitas hasil, dan produktivitas usaha tani Krisan dengan diterapkannya Standar Operasional Prosedur produksi dan penanganan pascapanen berbasis Good Agricultural Practices dan Good Handling Practice. Implementasi dari dukungan inovasi tersebut terttuang dalam program dukungan pengembangan kawasan selama kurun waktu 2014-2016 dilakukan di beberapa daerah di antaranya Sukabumi, Jawa Barat; Wonosobo, dan Batang, Jawa Tengah.

    Kerja sama Pemda Kabupaten Sukabumi yang dikenal sebagai salah satu pemasok tanaman hias besar nasional dengan Balitbangtan, yang digawangi oleh Balai Penelitian Tanaman Hias dan BPTP Jawa Barat diawali dengan kegiatan temu lapang sebagai inisiasi program pengembangan tanaman hias di daerah tersebut. Inisiasi introduksi teknologi inovasi dimulai pada 2013-2014 pada Gapoktan ‘Tani Asri’ di Kecamatan Sukaraja berupa gelar teknologi varietas, teknologi produksi dan pebenihan Krisan.

    Kegiatan ini kemudian berkembang dengan dukungan BPTP Jawa Barat pada skema pengembangan pertanian bioindustri dan Direktorat Florikultura melalui program jambore tanaman hias sedap malam. Pada 2015, kegiatan pengembangan tanaman hias di Sukabumi menapaki era baru dengan dikukuhkannya Kabupaten Sukabumi sebagai Kawasan Agribisnis Hortukultura berbasis Inovasi pada September 2015 yang dihadiri oleh Bupati Sukabumi, Kapuslitbang Hortikultura, dan para pejabat SKPD Kabupaten Sukabumi, Puslitbang Hortikultura, serta Direktorat Florikultura. Kegiatan pengembangan tanaman hias di Sukabumi kemudian merambah ke komoditas tanaman hias lain selain Krisan dan sedap malam, dengan mengangkat isu-isu strategis seperti pengendalian OPT ramah lingkungan dan pertanian organik.

    Selain di Sukabumi, program pengembangan kawasan agribisnis tanaman hias juga dilakukan di Wonosobo dan Batang, Jawa Tengah. Program diseminasi teknologi inovasi Balitbangtan di Wonosobo pada awalnya merupakan program dukungan kepada agenda Pemda Wonosobo dalam kerangka misi pengembangan Green City.  Konsep pengembangan kota Green City memprioritaskan komoditas hortikultura dalam pengembangan potensi ekonomi daerah yang berbasis pertanian dan pariwisata.

    Konsep ini kemudian berkembang menjadi program pengembangan potensi daerah bertajuk One Stop Village di daerah Kecamatan Garung untuk komoditas Krisan pada 2015, untuk selanjutnya diagendakan pengembangannya menjadi Kampung Flori sebagai potensi unggulan ekonomi daerah.  Tahun silam, kegiatan dukungan pengembangan kawasan agribisnis tanaman hias diperluas mencakup komoditas Anthurium dan Mawar hingga peningkatan kapasitas sumber daya pelaku usaha melalui pelatihan dan demonstrasi merangkai bunga, pengendalian OPT ramah lingkungan, perbanyakan Mawar hingga tips-tips meraih peluang pasar tanaman hias, bertempat di daerah Tembelang, Rojoimo.

    Keberhasilan kerja sama antara Balitbangtan, Kementan, dan Pemda Kabupaten Wonosobo dalam pengembangan tanaman hias mengilhami Kabupaten Batang untuk melakukan pengembangan potensi wilayah berbasis agrowisata dengan langkah awal menginisiasi introduksi teknologi inovasi tanaman hias dengan penanaman Krisan di dua lokasi, Desa Wonobodro dan Keteleng di Kecamatan Blado. Lokasi Krisan menjadi semakin ramai. 
    Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo menyatakan, inisiasi pengembangan tanaman hias di Batang merupakan terobosan yang inovatif sebagai pengungkit kesejahteraan masyarakat. ”Ide, inisiatif, dan inovatif seperti ini sangat dibutuhkan dalam pembangunan Batang,” ujarnya.
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25°C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman ± 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk