• NEEM OIL, SANG PESTISIDA NABATI
  • ditulis tgl : 13 Desember 2016, telah dibaca sebanyak : 3009 kali


    Gambar malas ngoding
    Cianjur, 13 Desember 2016: ORGANISME penganggu tanaman (OPT) acap menjadi masalah keseharian para punggawa tanaman hias. Berbagai solusi selalu dikembangkan demi mengantisipasinya. Satu di antaranya adalah Dedi Hutapea, dari Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Hias Kementerian Pertanian, belum lama berselang. Dia menemukan bahwa tanaman Nimba bisa menjadi satu dari beberapa tumbuhan sumber bahan pestisida yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian OPT.

    Dedi memaparkan, bagian tanaman Nimba yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati adalah daun dan bijinya. Ekstrak daun dan biji Nimba mengandung senyawa aktif utama azadirachtin. Selain bersifat sebagai insektisida, Nimba juga memiliki sifat sebagai fungisida, bakterisida, maupun akarisida.



    Dataran rendah dan lahan kering dengan ketinggian 0-800 meter di atas permukaan laut menjadi habitat yang sempurna untuk pertumbuhan Nimba. Tanaman ini umumnya berbuah pada umur 3-5 tahun, dan pada umur 10 tahun tanaman mulai produktif berbuah. Buah yang dihasilkan dapat mencapai 50 kilogram per pohon, sesuai dengan usia tanamannya. Meski begitu, Nimba hanya berbuah setahun sekali (sekitar Desember-Januari).

    Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, biji dan daun nimba mengandung azadirachtin, meliantriol, salanin, dan nimbin—hasil metabolit sekunder dari tanaman Nimba. Senyawa aktif tanaman Nimba tidak membunuh hama secara cepat. Walau begitu, zat dari Nimba berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual, penurunan daya tetas telur, dan menghambat pembentukan kitin. Selain itu juga berperan sebagai pemandul.



    Nimba mempunyai sederet keunggulan. Di alam, senyawa aktif Nimba mudah terurai, sehingga kadar residu relatif kecil. Cara kerja Nimba pun spesifik, sehingga aman terhadap musuh alami dan vertebrata lainnya (manusia dan ternak). Nimba tak menimbulkan resistensi, karena jumlah senyawa aktifnya lebih dari satu. Dengan keunggulan di atas, produk pertanian berkualitas prima dan kelestarian ekosistem tetap terpelihara..

    Walau demikian memang, persistensi insektisida yang singkat terkadang kurang menguntungkan dari segi ekonomis. Maklum, pada populasi yang tinggi diperlukan aplikasi yang berulang-ulang demi mencapai keefektifan pengendalian yang maksimal. Dan sampai saat ini, biaya produksi Nimba lebih mahal, sehingga harga jualnya belum tentu lebih murah dari insektisida sintetik. Tapi tentu, tak rugi bila dicoba. Bagaimana dengan Anda?.
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25°C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman ± 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk