• RUMPUT LAUT, SOLUSI BENGKAK AKAR KRISAN
  • ditulis tgl : 24 Oktober 2016, telah dibaca sebanyak : 4282 kali


    Gambar malas ngoding
    Cianjur, 24 Oktober 2016: Budidaya tanaman hias secara komersial telah dilakukan para pelaku usaha dengan menerapkan teknologi modern berbasis agribisnis. Hal ini berjalan seiring peningkatan pendapatan masyarakat dan perkembangan industri pariwisata, yang mendongkrak kebutuhan tanaman hias dari tahun ke tahun. Sayang, usaha budidaya tanaman hias di Indonesia menghadapi kendala serius, berupa serangan hama dan penyakit.

    Satu penyakit yang sangat merugikan adalah penyakit bengkak akar yang disebabkan nematoda Meloidogyne spp. Yang mudah dikenali dengan gejala bengkak akar (gall), deformasi sistem perakaran, nekrosis daun, kerdil, dan layu.

    Serangan Meloidogyne spp. ini dapat menurunkan produktivitas tanaman hias hingga 60 persen, tergantung kerentanan tanaman, patogenisitas dan kondisi lingkungan. Di daerah tropik kerugian yang ditimbulkan penyakit tersebut diperkirakan jauh lebih tinggi dibandingkan kerugian di daerah subtropik maupun daerah beriklim sedang.
     


    Berbagai upaya teknologi pengendalian telah direkomendasikan para ahli nematologi di seluruh penjuru dunia. Kebanyakan rekomendasi yang disarankan demi menekan serangan Meloidogyne spp. adalah melalui penggunaan nematisida sintetik, seperti methyl bromida, karbofuran, methamsodium, dan golongan organofosfat.

    Sejalan dengan makin kompleksnya permasalahan nematoda, kebutuhan nematisida sintetik meningkat drastis hingga mencapai 12 persen lebih per tahun. Ironisnya, penggunaan nematisida secara berlebihan ini dapat mencemari lingkungan, bahkan meningkatkan biaya produksi.

    Menurut catatan Balai Penelitian Tanaman Hias Kementerian Pertanian, satu produk alam yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian nematoda bengkak akar ini adalah rumput laut. Aplikasi ekstrak rumput laut pada berbagai tanaman pertanian diketahui dapat menekan serangan patogen (Whapam et al. 1994).

    Pada 1977, Tarjan menyatakan bahwa aplikasi ekstrak Ascophyllum nodosum pada tanaman jeruk menekan investasi nematoda Radopholus similis dan memperbaiki kualitas pertumbuhan dan kualitas bibit. Laporan lain menunjukkan bahwa larutan rumput laut yang diaplikasikasi pada berbagai jenis rumput-rumputan mampu meningkatkan pertumbuhan dan mengendalikan nematoda Belonolaimus longicaudatus (Morgan dan Tarjan, 1998).

    Featonby-Smith dan Van Staden (1998) menemukan bahwa investasi nematoda bengkak akar pada tanaman tomat menurun drastis setelah aplikasi larutan ekstrak rumput laut Ecklonia maxima melalui pengocoran ke dalam tanah. Penemuan serupa juga dilaporkan oleh Aracer et al. (1987) bahwa aplikasi rumput laut dari spesies Sphatoglosum schrodei nyata menekan intensitas serangan Meloidogyne spp. pada tanaman tomat. Larutan pekat rumput laut spesies E. maxima juga mampu menekan reproduksi Pratylenchus zeae pada akar jagung.

    Penemuan-penemuan tersebut menjadi bukti bahwa ekstrak rumput laut efektif mengendalikan nematoda parasitik pada tanaman hias. Di sisi lain potensi Indonesia sebagai penghasil ekstrak rumput laut sangat besar sehubungan dengan luasnya wilayah laut yang ada.

    Demikian pula pengembangan produk rumput laut di Tanah Air cukup potensial mengingat industri hortikultura nasional sedang mengalami pertumbuhan yang sangat cepat sebagai dampak dari peningkatan kebutuhan pasar domestik dan internasional.



    Bahan aktif yang terdapat dalam jaringan rumput laut telah berhasil diidentifikasi kelompok peneliti University of Portsmouth, Inggris, menggunakan metode analisis spektroskopi model H NMR (1984) didapatkan tiga jenis senyawa yang terbukti mampu menekan perkembangan berbagai jenis patogen yang menginfeksi tanaman melalui penyemprotan daun maupun aplikasi ke dalam tanah. Senyawa tersebut adalah -aminobutyri c acid betain dengan konsentrasi 59,5 %, glycine betain 20,8 %, dan -aminovaleric acid 27,9 %.

    Keefektifan bahan aktif dari ekstrak rumput laut dalam menekan perkembangan patogen tanaman telah dibuktikan beberapa peneliti Thailand, Prancis, Norwegia, Inggris, Hungaria, Belgia, dan Kanada (Gabrielsen, 1996). Tyihak (1996) menyatakan bahwa ekstrak rumput laut yang diaplikasikan melalui penyemprotan daun maupun kocoran ke dalam tanah ternyata efektif mengendalikan penyakit karat pada tanaman buncis yang disebabkan Uromyces phaseoli.

    Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Lizzi et al. (1996) bahwa ekstrak rumput laut terbukti efektif mengendalikan penyakit hawar daun cabai yang disebabkan oleh Phytophtora capsici dan kapang biru (blue mold) pada berbagai jenis sayuran. Menurut Chinnasri dan Tangchitsomkid (1996) aplikasi ekstrak rumput laut efektif mengendalikan nematoda bengkak akar pada tanaman tomat melalui penghambatan penetasan telur, pemanjangan siklus hidup, penurunan keperidian, dan kegagalan larva berkembang menjadi nematoda dewasa.

    Dari hasil penelitian yang digelar di Tanah Air, ada enam jenis rumput laut ditemukan dari perairan laut Jakarta dan Sukabumi, yaitu Gelidium sp., Sargassum sp., Ulfa sp., Eucheuma sp., Gracilaria sp., dan Grata-loupia livida. Namun Grata-loupia livida terbukti paling efektif mengendalikan Meloidogyne spp. Dan formulasi Grata-loupia livida cair ternyata paling efektif dibandingkan formulasi lainnya. Rumput laut ini lebih efektif dibandingkan nematisida carbofuran 3 %. Aplikasi rumput laut terbukti meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang, bobot basah tanaman krisan, serta mempercepat inisiasi bunga. 



    Rumput laut mengandung tiga jenis bahan aktif, yaitu aminobutyri acid betain, glycine betain, dan aminoaleri acid betain. Ketiga jenis bahan aktif tersebut berperan sebagai prekursor dalam sintesis formaldehid yang bersifat toksik bagi Meloidogyne spp. Rumput laut juga mengandung hara makro dan mikro dengan tingkat konsentrasi yang memungkinkan dapat digunakan sebagai pemasok hara bagi tanaman krisan.

    Jadi, tunggu apalagi? Lindungi krisan Anda, sekarang juga.


    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh