• KUTU KEBUL (BEMISIA TABACI GENN.)
  • ditulis tgl : 22 Agustus 2016, telah dibaca sebanyak : 5544 kali


    Gambar malas ngoding

    Ordo     :  Hemiptera
    Famili    :  Aleyrodidae




    Deskripsi
        Kutu kebul Bemisia tabaci merupakan salah satu jenis hama yang sangat penting, karena disamping sebagai hama tanaman juga sebagai serangga hama vektor virus. Hama ini bersifat polifag (mempunyai banyak jenis tanaman inang) sehingga sulit dikendalikan. Selain krisan, kutu kebul dapat menyerang tanaman lain seperti gerbera, anggrek, lili, anthurium, mentimun, semangka, brokoli, lobak, kentang, tomat, cabai, kedelai, dll.
     
        Gejala serangan kutu kebul menimbulkan sejumlah dampak pada tanaman di antaranya akibat cairan daun yang dihisapnya menyebabkan daun menjadi becak nekrotik karena rusaknya sel-sel dan jaringan daun. Ekskresi kutu kebul menghasilkan madu yang merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini menyebabkan proses fotosintesa tidak berlangsung normal. Selain itu, serangan kutu kebul sangat berbahaya karena dapat bertindak sebagai vektor virus. Yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sekitar 20 100 %. Sampai saat ini tercatat 60 jenis virus yang ditularkan oleh kutu kebul antara lain: chrysanthemum stunt virus (CSVd), virus Gemini, virus Clostero, virus Nepo, virus Carla, virus Poty, virus Rod-shape DNA.

        Imago atau serangga dewasa tubuhnya berukuran kecil antara (1 - 1,5 mm), berwarna putih, dan sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Serangga dewasa biasanya berkelompok pada bagian permukaan bawah daun, dan bila tanaman tersentuh biasanya akan berterbangan seperti kabut atau kebul putih.  Lama siklus hidup (telur - nimfa - imago) pada tanaman sehat rata-rata 24,7 hari, sedangkan pada tanaman terinfeksi virus mosaik kuning hanya 21,7 hari.

        Telur berbentuk lonjong agak lengkung seperti pisang, berwarna kuning terang, berukuran panjang antara 0,2 - 0,3 mm. Telur biasanya diletakkan di permukaan bawah daun, pada daun teratas (pucuk). Serangga betina lebih menyukai daun yang telah terinfeksi virus mosaik kuning sebagai tempat untuk meletakkan telurnya daripada daun sehat. Rata-rata banyaknya telur yang diletakkan pada daun yang terserang virus adalah 77 butir, sedangkan pada daun sehat hanya 14 butir. Lama stadium telur rata-rata 5,8 hari.

        Nimfa terdiri atas tiga instar. Instar ke - 1 berbentuk bulat telur dan pipih, berwarna kuning kehijauan, dan bertungkai yang berfungsi untuk merangkak. Nimfa instar ke - 2 dan ke - 3 tidak bertungkai, dan selama masa pertumbuhannya hanya melekat pada daun. Stadium nimfa rata-rata 9,2 hari.

    Pengendalian
    Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menanam pinggiran lahan dengan tanaman jagung atau bunga matahari sebagai barier untuk menghalangi atau mengganggu migrasi hama kutu kebul. Sanitasi lingkungan, terutama untuk mengendalikan gulma daun lebar seperti babadotan dan ceplukan yang dapat menjadi tanaman inang kutu kebul. Pemasangan perangkap likat berwarna kuning mampu menurunkan populasi kutu kebul. Penanaman jagung selain sebagai penghalang fisik masuknya kutu kebul ke pertanaman krisan juga bermanfaat sebagai inang bagi serangga predator  kutu kebul seperti kumbang Menochilus sexmaculatus Fab.  Dengan demikian diharapkan dapat melestarikan dan meningkatkan musuh alami yang telah ada dengan memanipulasi lingkungan sehingga menguntungkan kemampuan bertahan hidupnya.

    Penggunaan pestisida nabati seperti: nimba, suren, mindi, serai wangi dapat digunakan untuk mengendalikan kutu kebul. Apabila cara lain tidak dapat menekan populasi kutu kebul, dapat digunakan insektisida kimia yang efektif antara lain; diafentiuron,  buprofesin, imidakloprid, amitraz, dan asefat. Penyemprotan diusahakan mengenai bagian bawah daun. Perlu dihindari penggunaan pestisida secara berlebihan, karena dapat mendorong meningkatnya populasi kutu kebul.

    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh
    • 16 Mei 2019

      Cyperus alternifolius L. (Cyperaceae)

      Nama Cyperus berasal dari bahasa Yunani, kypeiros yang berarti rumput, dan alternifolius merujuk pada susunan daun pelindung yang teratur.
      Tanaman Cyperus memiliki tinggi antara 1-2 m, bagian atas disusun oleh daun-daun pelindung yang menaungi rangkaian bunga. Letak daun pelindung C. alternifolius tidak berhadapan dengan tepi daun polos. Tulang daun sejajar dengan panjang 15 - 40 cm dan lebar 1,3 cm, tersusun secara radial. Bentuk bunga spikelet, membentuk klaster dan keluar dari
    • 15 Mei 2019

      ANJANI AGRIHORTI

      Gladiol Varietas Anjani Agrihorti merupakan hasil persilangan yang memiliki bunga dengan warna mahkota bagian atas perpaduan antara merah dan kuning yang disertai bercak merah pada kedua sisi helain mahkota.  Mahkota bagian bawah berwarna kuning pada bagian pangkal dan merah pada bagian tengah dan ujung terminal.  Lidah bunga berwarna merah dan kuning berseling pada bagian tepi dan terdapat bintik merah di bagian tengah lidah dan kuning pada bagian pangkal lidah
    • 14 Mei 2019

      ANTHURIUM PLOWMANII

      Anthurium adalah genus terbesar pada family Araceae dengan anggota lebih dari 1500 spesies (Mayo et al. 1997; Govaerts dan Frodin 2002). 
      Sistem klasifikasi anthurium menurut  Croat dan Sheffer (1983) terbagi menjadi 19 seksi, yaitu : Tetraspermium, Gymnopodium, Porphyrochitonium, Pachyneurium, Polyphyllium, Leptanthurium, Oxycarpium, Xialophyllium, Polyneurium, Urospadix, Episeiostenum, Digitinervium, Cardiolonchium, Chamaerepium, Calomystrium, Belolonchium,