• ENSIKLOPEDIA HAMA DAN PENYAKIT PENTING TANAMAN HIAS KRISAN (PART 2)
  • ditulis tgl : 11 Februari 2016, telah dibaca sebanyak : 2703 kali


    Gambar malas ngoding
    Pengorok daun Liriomyza sp.
    Ordo     :  Diptera
    Famili    :  Agromyzidae
    Deskripsi

    Liriomyza sp.  bersifat polifag sehingga mudah menyebar di berbagai lokasi di Indonesia khususnya wilayah dataran tinggi. Hama ini menyerang lebih dari 100 spesies tanaman dari berbagai famili seperti Leguminosae, Cucurbitaceae, Solanaceae, Liliaceae, Compositae, dan Umbelliferrae.  Di Indonesia, hama ini dilaporkan juga menyerang cabai, kentang, tomat, seledri, kacang merah, kubis, gambas, kapri, brokoli, lettuce, bawang daun, bayam, bawang merah, buncis dan beberapa jenis gulma misalnya bayam air.
    Serangga dewasa menusuk daun-daun muda dengan ovipositornya untuk meletakkan telurnya sambil makan dengan menghisap tanaman.  Larva hidup dengan cara mengorok daun sehingga pada daun terjadi alur-alur bekas korokan yang berliku. Pada intensitas serangan tinggi terlihat pada bagian daun dan kadang-kadang seluruh tanaman terlihat putih.  Pada populasi tinggi beberapa lubang korokan menyatu dan menyebabkan daun menguning.
     
    Kerusakan tanaman tidak hanya disebabkan oleh korokan larva, tetapi juga karena tusukan ovipositor serangga betina yang menyebabkan gejala bintik-bintik putih.
    Serangga ini menyerang mulai dari daun yang muda sampai daun tua dengan cara mengisap cairan tanaman yang ke luar dari bekas tusukan.  Beberapa larva seringkali secara bersama-sama menyerang satu daun yang sama, sehingga daun layu sebelum waktunya dan mati. 

    Serangga dewasa (imago) berwarna coklat tua kehitaman dan terdapat bintik kuning pada tubuhnya, berukuran panjang 1,5-2 mm.  Sayap transparan mengkilat dan rentang sayap mencapai 2,25 mm.  Sayap terlipat di atas tubuhnya.  Bentuk tubuh seperti lalat kacang (lebih kecil dan lebih ramping).  Telur berwarna putih dan agak transparan dengan panjang 0,2-0,5 mm. Stadia telur berlangsung selama 2-4 hari  Larva instar satu berwarna bening, setelah itu menjadi kuning kecoklatan dengan panjang 2,5-2 mm.  Serangga betina dewasa meletakkan telur pada jaringan daun, sehari setelah kawin.  Serangga betina dapat meletakkan telur sampai sekitar 600-700 butir.  Telur menetas setelah 3-4 hari dan larva berada pada liang korok pada jaringan tanaman (di bawah kutikula dari permukaan atas daun) tersebut.  Siklus hidupnya berlangsung sekitar 165 hari, bergantung pada suhu lingkungan.
    Pengendalian.

    Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi lingkungan pertanaman, memotong dan membuang daun yang terserang, pemasangan penutup tanah dari plastik hitam.  Budidaya tanaman sehat dengan mengupayakan tanaman tumbuh subur, pengairan yang cukup, pemupukan (N, P, dan K) berimbang, dan penyiangan gulma. Tanaman yang tumbuh subur lebih toleran terhadap serangan pengorok daun. Penanaman tanaman perangkap, misalnya menanam tanaman kacang merah yang ditanam lebih awal ( 2 minggu sebelum tanam krisan) di sekitar pinggiran tanaman krisan, setiap daun kacang merah yang terserang pengorok daun dipetik/diambil dan dimusnahkan. Pemasangan perangkap likat kuning secara massal dapat dilakukan untuk mengendalikan lalat pengorok daun pada krisan. Jumlah imago yang tertangkap pada perangkap dan jumlah lalat pengorok pertanaman memiliki kaitan yang erat dan dapat digunakan sebagai indikator waktu aplikasi insektisida yang tepat. Penggunaan insektisida nabati seperti mimba (Azadirachta indica) Neem Oil efektif terhadap larva maupun imago pengorok daun. Aplikasi insektisida berbahan aktif seperti siromazin, emamektin benzoat, kartap, dan spinosad atau yang berefek serupa dapat dilakukan untuk menekan populasi pengorok daun. Aplikasi insektisida ini senantiasa memperhatikan tepat jenis, tepat sasaran, tepat waktu, tepat dosis, tepat cara atau tepat aplikasi.

    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh
    • 16 Mei 2019

      Cyperus alternifolius L. (Cyperaceae)

      Nama Cyperus berasal dari bahasa Yunani, kypeiros yang berarti rumput, dan alternifolius merujuk pada susunan daun pelindung yang teratur.
      Tanaman Cyperus memiliki tinggi antara 1-2 m, bagian atas disusun oleh daun-daun pelindung yang menaungi rangkaian bunga. Letak daun pelindung C. alternifolius tidak berhadapan dengan tepi daun polos. Tulang daun sejajar dengan panjang 15 - 40 cm dan lebar 1,3 cm, tersusun secara radial. Bentuk bunga spikelet, membentuk klaster dan keluar dari
    • 15 Mei 2019

      ANJANI AGRIHORTI

      Gladiol Varietas Anjani Agrihorti merupakan hasil persilangan yang memiliki bunga dengan warna mahkota bagian atas perpaduan antara merah dan kuning yang disertai bercak merah pada kedua sisi helain mahkota.  Mahkota bagian bawah berwarna kuning pada bagian pangkal dan merah pada bagian tengah dan ujung terminal.  Lidah bunga berwarna merah dan kuning berseling pada bagian tepi dan terdapat bintik merah di bagian tengah lidah dan kuning pada bagian pangkal lidah
    • 14 Mei 2019

      ANTHURIUM PLOWMANII

      Anthurium adalah genus terbesar pada family Araceae dengan anggota lebih dari 1500 spesies (Mayo et al. 1997; Govaerts dan Frodin 2002). 
      Sistem klasifikasi anthurium menurut  Croat dan Sheffer (1983) terbagi menjadi 19 seksi, yaitu : Tetraspermium, Gymnopodium, Porphyrochitonium, Pachyneurium, Polyphyllium, Leptanthurium, Oxycarpium, Xialophyllium, Polyneurium, Urospadix, Episeiostenum, Digitinervium, Cardiolonchium, Chamaerepium, Calomystrium, Belolonchium,