Ensiklopedia Hama dan Penyakit Penting Tanaman Hias Krisan (Part 1)


Diupload oleh : Wisnu Ardi Pratama
03 Februari 2016  |  Kategori :Info Penelitian - Dibaca 3074 kali






Krisan (Dendranthema grandiflora Kitam.)  merupakan bunga potong komersial yang mudah dibudidayakan dan dikembangkan. Bunga ini memiliki masa hidup yang paling lama dibandingkan bunga potong lain dan dapat berbunga sesuai dengan waktu panen yang ditentukan. Budidaya krisan pertama kali dilakukan di Cina 3000 tahun SM, dan merupakan spesies alami dari daratan Asia Timur. Pada tahun 1735 seorang botanis Swedia, Karl Linnaeus mengintroduksi tanaman ini ke negara-negara barat. Tanaman krisan termasuk famili Asteraceae, genus Chrysanthemum. Chrysanthemum dalam bahasa yunani berasal dari kata chyros yang berarti emas dan anthemon yang berarti bunga, sehingga bunga ini juga dikenal sebagai bunga emas (golden flower).

Tanaman krisan di Indonesia mulai dikomersialkan dan dikembangkan pada awal 1990. Tanaman ini banyak ditanam pada area lebih dari 600 m dpl. Suhu udara terbaik yang diperlukan untuk tanaman krisan di daerah tropis seperti di Indonesia adalah antara 20 dan 26 °C. Krisan banyak dibudidayakan dalam skala kecil oleh petani maupun dalam skala besar oleh perusahaan agribisnis terutama di dataran tinggi provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara dan Bali. Disamping untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, krisan juga diproduksi terutama untuk memenuhi kebutuhan luar negeri seperti negara-negara Eropa, Jepang, dan negara Asia lainnya. Ekspor krisan Indonesia dalam bentuk bunga potong dan stek batang.

Permintaan bunga potong dan tanaman krisan pot di pasar dalam negeri (domestik) maupun pasar internasional makin meningkat dari tahun ke tahun. Situasi ini memberi peluang bagi petani produsen dan pengusaha bunga krisan untuk meningkatkan kuantitas, kualitas dan kontinuitas produksi bunga krisan yang sesuai dengan permintaan pasar. Perkembangan produksi krisan di Indonesia mengalami peningkatan selama periode 2007-2013 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 37.12% per tahun. Total volume ekspor bunga ini pada tahun 2012 mencapai 79.10 ton dengan nilai  US$ 1 647 127, namun mengalami penurunan pada tahun 2013 menjadi 57.05 ton dengan nilai US$ 772 117. Hal ini diakibatkan oleh beberapa kendala di antaranya adalah terdapatnya organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada bunga yang diekspor.

Di samping bunga potong, krisan juga diperdagangkan dalam bentuk bibit yaitu stek pucuk. Produksi bibit krisan dalam negeri meningkat dari 1,7 juta bibit pada tahun 2005 menjadi 5,9 juta bibit di tahun 2006 dan 6,5 juta bibit di tahun 2007. Walaupun terjadi peningkatan produksi bibit krisan, impor bibit tersebut juga mengalami peningkatan dari tahun 2005 ke tahun 2006 dan tahun 2007. Hal ini disebabkan karena kebutuhan bibit krisan meningkat lebih cepat dibanding kemampuan produksi bibit di dalam negeri. Dalam usaha budidaya krisan, kondisi keragaman fisik tanaman dan bunga dapat terganggu dengan adanya hama dan penyakit tanaman. Serangan hama dan penyakit tersebut dapat menurunkan mutu pertumbuhan dan kerusakan fisik tanaman secara langsung ataupun tidak langsung sehingga dapat menyebabkan penurunan nilai kualitas serta kuantitas produksi bunga krisan.

Penyakit-penyakit utama tanaman krisan adalah penyakit karat hitam (Puccinia chrysanthemi), karat putih (Puccinia horiana), bercak daun septoria (Septoria chrysanthemi Allesch dan S. leucanthemi Sacc. et Speg.), embun tepung (Oidium chrysanthemi Rab.), kapang kelabu (Botrytis cenerea Pers.), layu cendawan (Fusarium oxysporum Schlecht. ex Fr. dan Verticillium alboatrum Reinke et Bert.), dan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh chrysanthemun stunt viroid (CSVd), chrysanthemun mild mosaic virus (CMMV) atau chrysanthemum B carlavirus (CVB). Hama-hama penting yang menyerang tanaman krisan adalah Ostrinia nubilalis (Lepidoptera: Pyralidae),  Thrips sp. (Thysanoptera: Thripidae), Liriomyza trifolii (Diptera: Agromyzidae), Aphis gossypii (Homoptera: Aphididae). Selain A. gossypii¸  tanaman krisan juga dapat diserang oleh kutudaun yang lain seperti Macrosiphoniella sanborni dan Myzus persicae. Spodoptera litura (Lepidoptera; Noctuidae), Agrotis ipsilon (Lepidoptera: Noctuidae),  Bemisia tabaci (Aleyrodidae: Hemiptera), Tetranychus urticae (Acarina: Tetranychidae).

Pada ekosistem pertanian, tanaman budidaya menempati aras trofi pertama sebagai produsen. Herbivora atau pemakan tanaman budidaya menempati aras trofi kedua atau sebagai konsumen pertama. Berbeda dengan herbivora lainnya, keberadaaan herbivora pemakan tanaman lainnya umumnya tidak dikehendaki karena mengakibatkan  terjadinya kerusakan atau kerugian bagi manusia. Herbivora yang merugikan ini disebut sebagai hama. Hama adalah semua hewan yang merusak tanaman atau hasilnya karena aktivitas hidupnya sehingga menimbulkan kerugian secara ekonomis.

Permasalahan hama berhubungan dengan  jenis tanaman yang diserangnya, atau komoditas yang menderita kerusakan dan kerugian akibat gangguan hama. Pengelompokan hama pada masing-masing komoditas ditekankan kepada hubungan ekonominya, sehingga terdapat hama penting (major pest), hama kurang penting (minor pest), hama kadang-kadang (occasional pest) dan hama migran (migrant pest). Di dalam pengelolaan hama, pemahaman mengenai sistem tempat hama berada merupakan hal yang penting sehingga lebih mudah dalam mengatasi permasalahan. Empat langkah yang dipergunakan mengatasi permasalahan hama terutama serangga adalah; 1)identifikasi jasad pengganggu, 2) mengukur kuantitas pengaruh jasad pengganggu terhadap tanaman, 3) mempertimbangkan pengelolaan yang diperlukan, dan 4) menerapkan taktik pengelolaan hama yang tepat.

Pengelolaan hama pada tanaman hias umumnya mempunyai perbedaan dengan pengelolaan hama pada beberapa produk hortikultura lainnya. Hal ini disebabkan karena sifat produknya yang tidak dikonsumsi secara langsung sebagai bahan pangan. Oleh karenanya penggunaan bahan kimia sintetis agak sedikit lebih "longgar" dibanding jika yang diperlakukan adalah produk hortikultura sayuran dan buahan. Akan tetapi penggunaannya harus dilakukan dengan bijaksana mengingat dampak yang ditimbulkannya baik bagi petani maupun lingkungan. Pada akhirnya yang perlu diperhatikan bukan semata-mata kehilangan kuantitas, tetapi kehilangan kualitas atau yang sering disebut sebagai aesthetical damage.

Bersambung...

Berita Terkait

INFORMASI PENGUNJUNG :

AGENT : CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/)
IP PUBLIK : 54.162.166.76

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Perencanaan Pembangunan KP. Serpong Tahap II. Silahkan diunduh: [Perencanaan Pembangunan KP. Serpong Tahap II], Terima Kasih.

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Perencanaan Renovasi Bangunan Guest House Segunung Balithi. Silahkan diunduh: [Perencanaan Renovasi Bangunan Guest House Segunung Balithi], Terima Kasih.

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Pemenang Lelang Pengadaan Alat Laboratorium. Silahkan diunduh: Pengumuman Pemenang Lelang, Terima Kasih.

Informasi Publik

  • Tersedia Setiap Saat
    Informasi yang Wajib Tersedia Setiap Saat, sebagaimana tercantum dalam Undang-undang RI no 14 ... [download file]
  • Disediakan dan Diumumkan Secara Berkala
    Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan Secara Berkala sebagaimana tercantum dalam ... [download file]
  • Diumumkan Secara Serta Merta
    Informasi yang Wajib Diumumkan secara Serta-merta sebagaimana tercantum dalam Undang-undang RI ... [download file]

Sekilas info


Info Kerjasama

  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Agribisnis dan Wisata... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Varietas Tanaman... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Tanaman Hias di Kabupaten... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Kawasan Agribisnis dan Agrowisata di... [detail]
daftar kerjasama penelitan pertahun