• ENSIKLOPEDIA HAMA DAN PENYAKIT PENTING TANAMAN HIAS KRISAN (PART 1)
  • ditulis tgl : 03 Februari 2016, telah dibaca sebanyak : 3866 kali


    Gambar malas ngoding
    Krisan (Dendranthema grandiflora Kitam.)  merupakan bunga potong komersial yang mudah dibudidayakan dan dikembangkan. Bunga ini memiliki masa hidup yang paling lama dibandingkan bunga potong lain dan dapat berbunga sesuai dengan waktu panen yang ditentukan. Budidaya krisan pertama kali dilakukan di Cina 3000 tahun SM, dan merupakan spesies alami dari daratan Asia Timur. Pada tahun 1735 seorang botanis Swedia, Karl Linnaeus mengintroduksi tanaman ini ke negara-negara barat. Tanaman krisan termasuk famili Asteraceae, genus Chrysanthemum. Chrysanthemum dalam bahasa yunani berasal dari kata chyros yang berarti emas dan anthemon yang berarti bunga, sehingga bunga ini juga dikenal sebagai bunga emas (golden flower).

    Tanaman krisan di Indonesia mulai dikomersialkan dan dikembangkan pada awal 1990. Tanaman ini banyak ditanam pada area lebih dari 600 m dpl. Suhu udara terbaik yang diperlukan untuk tanaman krisan di daerah tropis seperti di Indonesia adalah antara 20 dan 26 °C. Krisan banyak dibudidayakan dalam skala kecil oleh petani maupun dalam skala besar oleh perusahaan agribisnis terutama di dataran tinggi provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara dan Bali. Disamping untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, krisan juga diproduksi terutama untuk memenuhi kebutuhan luar negeri seperti negara-negara Eropa, Jepang, dan negara Asia lainnya. Ekspor krisan Indonesia dalam bentuk bunga potong dan stek batang.

    Permintaan bunga potong dan tanaman krisan pot di pasar dalam negeri (domestik) maupun pasar internasional makin meningkat dari tahun ke tahun. Situasi ini memberi peluang bagi petani produsen dan pengusaha bunga krisan untuk meningkatkan kuantitas, kualitas dan kontinuitas produksi bunga krisan yang sesuai dengan permintaan pasar. Perkembangan produksi krisan di Indonesia mengalami peningkatan selama periode 2007-2013 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 37.12% per tahun. Total volume ekspor bunga ini pada tahun 2012 mencapai 79.10 ton dengan nilai  US$ 1 647 127, namun mengalami penurunan pada tahun 2013 menjadi 57.05 ton dengan nilai US$ 772 117. Hal ini diakibatkan oleh beberapa kendala di antaranya adalah terdapatnya organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada bunga yang diekspor.

    Di samping bunga potong, krisan juga diperdagangkan dalam bentuk bibit yaitu stek pucuk. Produksi bibit krisan dalam negeri meningkat dari 1,7 juta bibit pada tahun 2005 menjadi 5,9 juta bibit di tahun 2006 dan 6,5 juta bibit di tahun 2007. Walaupun terjadi peningkatan produksi bibit krisan, impor bibit tersebut juga mengalami peningkatan dari tahun 2005 ke tahun 2006 dan tahun 2007. Hal ini disebabkan karena kebutuhan bibit krisan meningkat lebih cepat dibanding kemampuan produksi bibit di dalam negeri. Dalam usaha budidaya krisan, kondisi keragaman fisik tanaman dan bunga dapat terganggu dengan adanya hama dan penyakit tanaman. Serangan hama dan penyakit tersebut dapat menurunkan mutu pertumbuhan dan kerusakan fisik tanaman secara langsung ataupun tidak langsung sehingga dapat menyebabkan penurunan nilai kualitas serta kuantitas produksi bunga krisan.

    Penyakit-penyakit utama tanaman krisan adalah penyakit karat hitam (Puccinia chrysanthemi), karat putih (Puccinia horiana), bercak daun septoria (Septoria chrysanthemi Allesch dan S. leucanthemi Sacc. et Speg.), embun tepung (Oidium chrysanthemi Rab.), kapang kelabu (Botrytis cenerea Pers.), layu cendawan (Fusarium oxysporum Schlecht. ex Fr. dan Verticillium alboatrum Reinke et Bert.), dan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh chrysanthemun stunt viroid (CSVd), chrysanthemun mild mosaic virus (CMMV) atau chrysanthemum B carlavirus (CVB). Hama-hama penting yang menyerang tanaman krisan adalah Ostrinia nubilalis (Lepidoptera: Pyralidae),  Thrips sp. (Thysanoptera: Thripidae), Liriomyza trifolii (Diptera: Agromyzidae), Aphis gossypii (Homoptera: Aphididae). Selain A. gossypii¸  tanaman krisan juga dapat diserang oleh kutudaun yang lain seperti Macrosiphoniella sanborni dan Myzus persicae. Spodoptera litura (Lepidoptera; Noctuidae), Agrotis ipsilon (Lepidoptera: Noctuidae),  Bemisia tabaci (Aleyrodidae: Hemiptera), Tetranychus urticae (Acarina: Tetranychidae).

    Pada ekosistem pertanian, tanaman budidaya menempati aras trofi pertama sebagai produsen. Herbivora atau pemakan tanaman budidaya menempati aras trofi kedua atau sebagai konsumen pertama. Berbeda dengan herbivora lainnya, keberadaaan herbivora pemakan tanaman lainnya umumnya tidak dikehendaki karena mengakibatkan  terjadinya kerusakan atau kerugian bagi manusia. Herbivora yang merugikan ini disebut sebagai hama. Hama adalah semua hewan yang merusak tanaman atau hasilnya karena aktivitas hidupnya sehingga menimbulkan kerugian secara ekonomis.

    Permasalahan hama berhubungan dengan  jenis tanaman yang diserangnya, atau komoditas yang menderita kerusakan dan kerugian akibat gangguan hama. Pengelompokan hama pada masing-masing komoditas ditekankan kepada hubungan ekonominya, sehingga terdapat hama penting (major pest), hama kurang penting (minor pest), hama kadang-kadang (occasional pest) dan hama migran (migrant pest). Di dalam pengelolaan hama, pemahaman mengenai sistem tempat hama berada merupakan hal yang penting sehingga lebih mudah dalam mengatasi permasalahan. Empat langkah yang dipergunakan mengatasi permasalahan hama terutama serangga adalah; 1)identifikasi jasad pengganggu, 2) mengukur kuantitas pengaruh jasad pengganggu terhadap tanaman, 3) mempertimbangkan pengelolaan yang diperlukan, dan 4) menerapkan taktik pengelolaan hama yang tepat.

    Pengelolaan hama pada tanaman hias umumnya mempunyai perbedaan dengan pengelolaan hama pada beberapa produk hortikultura lainnya. Hal ini disebabkan karena sifat produknya yang tidak dikonsumsi secara langsung sebagai bahan pangan. Oleh karenanya penggunaan bahan kimia sintetis agak sedikit lebih "longgar" dibanding jika yang diperlakukan adalah produk hortikultura sayuran dan buahan. Akan tetapi penggunaannya harus dilakukan dengan bijaksana mengingat dampak yang ditimbulkannya baik bagi petani maupun lingkungan. Pada akhirnya yang perlu diperhatikan bukan semata-mata kehilangan kuantitas, tetapi kehilangan kualitas atau yang sering disebut sebagai aesthetical damage.

    Bersambung...

    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman ± 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh
    • 16 Mei 2019

      Cyperus alternifolius L. (Cyperaceae)

      Nama Cyperus berasal dari bahasa Yunani, kypeiros yang berarti rumput, dan alternifolius merujuk pada susunan daun pelindung yang teratur.
      Tanaman Cyperus memiliki tinggi antara 1-2 m, bagian atas disusun oleh daun-daun pelindung yang menaungi rangkaian bunga. Letak daun pelindung C. alternifolius tidak berhadapan dengan tepi daun polos. Tulang daun sejajar dengan panjang 15 - 40 cm dan lebar 1,3 cm, tersusun secara radial. Bentuk bunga spikelet, membentuk klaster dan keluar dari
    • 15 Mei 2019

      ANJANI AGRIHORTI

      Gladiol Varietas Anjani Agrihorti merupakan hasil persilangan yang memiliki bunga dengan warna mahkota bagian atas perpaduan antara merah dan kuning yang disertai bercak merah pada kedua sisi helain mahkota.  Mahkota bagian bawah berwarna kuning pada bagian pangkal dan merah pada bagian tengah dan ujung terminal.  Lidah bunga berwarna merah dan kuning berseling pada bagian tepi dan terdapat bintik merah di bagian tengah lidah dan kuning pada bagian pangkal lidah
    • 14 Mei 2019

      ANTHURIUM PLOWMANII

      Anthurium adalah genus terbesar pada family Araceae dengan anggota lebih dari 1500 spesies (Mayo et al. 1997; Govaerts dan Frodin 2002). 
      Sistem klasifikasi anthurium menurut  Croat dan Sheffer (1983) terbagi menjadi 19 seksi, yaitu : Tetraspermium, Gymnopodium, Porphyrochitonium, Pachyneurium, Polyphyllium, Leptanthurium, Oxycarpium, Xialophyllium, Polyneurium, Urospadix, Episeiostenum, Digitinervium, Cardiolonchium, Chamaerepium, Calomystrium, Belolonchium,