• GELAR TEKNOLOGII DAN TEMU BISNUS TANAMAN HIAS KRISAN DI SOLOK-SUMATERA BARAT
  • ditulis tgl : 12 Oktober 2015, telah dibaca sebanyak : 5210 kali


    Gambar malas ngoding

    Kegiatan diseminasi gelar teknologi merupakan rangkaian acara diseminasi teknologi tanaman hias pada daerah-daerah dengan potensi pengembangan budidaya tanaman hias.  Di Kabupaten Solok-Sumatera Barat, introduksi teknologi produksi krisan bunga potong telah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu.  Introduksi krisan di Solok didahului dengan pelatihan pemandu krisan yang dilaksanakan di Balithi pada tahun 2007.  Melalui berbagai induksi, tanaman hias mulai berkembang di Solok Sumatera Barat dengan terbentuknya satu kelompok tani di daerah tersebut.  Pada tahun-tahun berikutnya, induksi teknologi budidaya krisan kemudian dilanjutkan pada tahun 2010, yaitu dengan memperkenalkan beberapa varietas krisan unggul baru.

    Kegiatan diseminasi kemudian dilanjutkan dalam kerangka kerja program pengembangan kawasan florikultura.  Pendekatan kawasan dirasa lebih mengena, dikarenakan potensi dan perkembangan usaha budidaya tanaman hias pada skala ekonomi mulai menggeliat sebagai komoditas unggulan baru di Solok.  Mulai tahun 2012, program pengembangan tanaman hias krisan di Solok ditingkatkan pada level pengembangan kawasan tanaman hias berdaya saing dengan pemanfaatan sumber daya lokal.  Pemanfaatan sumber daya lokal yang dipandukan dengan teknologi spesisik lokasi, memberikan dampak peningkatan efisiensi produksi dan keuntungan bagi petani.

    Pada tahun 2015, level pengembangan kawasan florikultura krisan di Solok ditingkatkan pada level pendampingan.  Model ini dipilih, dikarenakan kemampuan petani dalam memproduksi tanaman hias yang ‘marketable’ dianggap sudah baik, dan pengembangan kegiatan lebih difokuskan pada pengembangan kelembagaan petani dan mata rantai pemasaran dengan mendekatkan konsumen ke produsen.  Gelar Teknologi dan Temu Bisnis dirancang selain untuk memperkenalkan mengintroduksikan varietas unggul baru krisan, juga dirancang untuk menjadi ajang pertemuan dari berbagai sektor dalam merumuskan komitmen untuk pengembangan agribisnis yang lebih luas.

    Pada display gelar teknologi, ditampilkan 5 varietas unggul baru krisan yang adaptif di daerah tropis dan tahan penyakit penting seperti Puspita Nusantara, Arusoko Pelangi, Kineta, Solinda Pelangi dan Kusumawasti.  Varietas-varietas ini ditanam di salah satu kelopok tani ‘Seruni’ di Nagari Batang Barus, Kabupaten Solok.  Performa tanaman hingga saat berbunga dapat dikategorikan tumbuh baik, dengan serangan OPT rendah.

    Temu bisnis florikultura dihadiri oleh beberapa kelompok tani tanaman hias, stakeholder seperti asosiasi tanaman hias, dekorator, florist, pemangku kepentingan seperti Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Barat, BPTP Sumatera Barat dan Balai Penelitian Tanaman Hias selaku penghasil teknologi krisan nasional.  Rumusan temu bisnis florukultura menghasilkan beberapa komitmen penting, diantaranya kemudahaan petani dalam mengakses teknologi, info pasar dan perlunya sinergi pengembangan komoditas dalam pendekatan kawasan florikultura.  Dinas Pertanian Kabupaten Solok dan Propinsi Sumatera Barat pun berkomitmen akan terus melakukan pendampingan kelembagaan dan memfasilitasi pertemuan-pertemuan strategis untuk mendukung pengembangan tanaman hias di Solok lebih luas.

    Kegiatan lain, dalam kunjungan kerja di Solok adalah mengunjungi kesiapan Balai Benih Hortikultura dalam menghasilkan benih sebar krisan yang sehat dan bermutu.  Saat ini Balai Benih hortikultura telah mempunyai kebun tanaman induk krisan dan telah memproduksi benih krisan yang didistribusikan ke petani dan telah berhasil mensuplai 20% kebutuhan benih krisan di Kabupaten Solok.  Permasalahan pada produksi benih krisan adalah serangan penyakit karat yang masih terdeteksi di beberapa varietas dan program sertifikasi benih yag belum terprogram secara jelas.  Balithi dalam hal ini akan melakukan program pendampingan teknologi produksi benih sebar krisan dengan penerapan SOP budidaya tanaman induk dan produksi stek dan membantu dalam perencanaan sertifikasi benih krisan yang diproduksi balai benih pada program pendampingan mendatang.

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25°C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 05 Mei 2019

      Layu Fusarium oxysporum Schlecht. ex. Fr. dan Verticillium albo-atrum Reinke et Bert.

      Gejala serangan Fusarium sp. adalah tanaman layu, daun menguning dan mengering mulai dari daun bagian bawah merambat ke daun bagian atas, dan akhirnya mengakibatkan kematian tanaman. Potongan batang melintang pada tanaman yang sakit menunjukkan warna coklat melingkar di sekeliling pembuluhnya.  Sedangkan cendawan Verticillium sp. menyebabkan daun-daun menguning, kemudian layu permanen, mirip dengan gejala serangan Fusarium, tetapi daun-daun yang terserang
    • 03 Mei 2019

      Bercak daun Septoria chrysanthemi Allesch, dan S. leucanthemi Sacc. et Speg.

      Gejala serangan S. chrysanthemi berupa bercak-bercak hitam pada daun.
      Bercak berbentuk bulat dan berbatas tegas, sedangkan S. leucanthemi bercak-bercaknya berwarna coklat, berbentuk bulat berukuran besar hingga 3 cm dan mempunyai lingkaran-lingkaran yang jelas. 
      Pada bercak yang disebabkan S. chrysanthemi terdapat badan buah cendawan (piknidium) yang mempunyai lebar 150 - 250 μm, dan berisi konidium berbentuk tabung, bersel 3 - 4, berukuran 50 - 80 x 2 - 3
    • 18 April 2019

      Pengorok daun Liriomyza sp.

      Liriomyza sp.  bersifat polifag yang dapat menyerang lebih dari 100 spesies tanaman dari berbagai famili seperti Leguminosae, Cucurbitaceae, Solanaceae, Liliaceae, Compositae, dan Umbelliferrae.  Di Indonesia, hama ini dilaporkan juga menyerang cabai, kentang, tomat, seledri, kacang merah, kubis, gambas, kapri, brokoli, lettuce, bawang daun, bayam, bawang merah, buncis dan beberapa jenis gulma misalnya bayam air.
      Serangga dewasa menusuk daun-daun muda dengan
    • 15 April 2019

      Proses Produksi Krisan (bag. 4)

      Pemeliharaan khusus
      Pemeliharaan khusus yang dimaksud di sini meliputi aktifitas pemeliharaan yang belum termasuk dalam rangkaian proses produksi pada subbab/bab terdahulu. Pemeliharaan khusus ini meliputi pinching, penjarangan rumpun dan tangkai bunga dan pemberian zat pengatur tumbuh.

      Pembuangan titik tumbuh (pinching)
      Pinching atau pembuangan titik tumbuh apikal muda dapat berfungsi untuk merangsang
    • 11 April 2019

      Proses Produksi Krisan (bag. 3)

      5. Pemeliharaan tanaman
      Pemeliharaan tanaman yang disajikan meliputi pemberian air, pemberian hari panjang, pemupukan, penyiangan, pemberian jaring penegak untuk tanaman produksi bunga potong serta pemeliharaan khusus lainnya.  Sedangkan penanggulangan hama dan penyakit dibahas pada bab selanjutnya.

      Pemberian
    • 10 April 2019

      Proses Produksi Krisan (bag. 2)

      3. Penyiapan bahan tanam (planting material)
      Penggunaan benih yang berkualitas sangat penting untuk diperhatikan dalam proses produksi tanaman krisan.  Benih yang berkualitas dalam hal ini adalah benih dengan kemurnian genetik tinggi, sehat (bebas patogen terutama penyakit sistemik), tidak mengalami gangguan fisiologis, mempunyai daya tumbuh kuat dan memiliki nilai komersial di pasaran.  Benih yang sehat dan prima berpotensi untuk menghasilkan tanaman