• WORKSHOP DUKUNGAN PADA PENGEMBANGAN TAMAN SCIENCE PERTANIAN DAN TAMAN TECHNO PERTANIAN LINGKUP PUSLITBANG HORTIKULTURA
  • ditulis tgl : 29 Juni 2015, telah dibaca sebanyak : 1974 kali


    Gambar malas ngoding

    Dalam rangka untuk mrndukung pelaksanaan TTP dan TSP diperlukan pemahaman konsep dasar dan falsafah TTP serta TSP secara komperhensif. Untuk itulah diperlukan adanya workshop untuk menyatukan pemahaman dan falsafah, agar tujuan dan hasil akhir dari kegiatan ini dapat terwujud.
    Workshop dukungan Puslitbang Hortikultura terhadap pengembangan TTP dan TSP Kementrian Pertanian bertujuan untuk merumuskan dukungan formal lingkup Puslitbang Hortikultura terhadap pelaksanaan program TSP dan TTP, serta memberikan arahan kepada para peneliti dalam melaksanakan tugas sebagai tim teknis TTP-TSP agar memberikan kontribusi yang optimal terhadap kinerja TTP-TSP sesuai perannya masing-masing. Workshop dihadiri oleh 60 peserta peneliti anggota tim tekhns program TTP dan TSP, pejabat structural lingkup Puslitbang hortikultura, para narasumber yang terdiri dari Sekretaris Balitbangtan yang diwakili oleh Kapustaka, Sesditjen Hortikultura, Dr. Djoko Nugroho dari ITB dan anggota FKPR.

    Dalam Workshop ini didapatkan beberapa rumusan, diantaranya:
    - Sesuai Undang-undang No. 13 Tahun 2010 terntang Hortikultura dan peraturan Mentri Pertanian No 50/Permentan/OT.140/8/2012 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian , bahwa pengembangan komoditas Hortikultura dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kawasan yang mengintegrasikan semua segmen usaha dari hulu sampai hilir dalam skala industry dengan memperhatikan keunggulan wilayah yang didukung oleh fasilitas infrastruktur dasar, penyediaan sarana produksi, pasca panen, pemasaran, serta berbagai keperluan pendukungnya. Program dukungan inovasi dalam pengembangan kawasan Agribisnis Hortikultura memiliki nilai strategis ditinjau dari aspek pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi daerah. Penerapan program dukungan inovasi dalam kawasan selama 5 tahun terakhir terbukti mampu mengembangkan “model usaha industry hortikultura berbasis inovasi dalam ikatan kelembagaan yang efektif dan berkelanjutan sebagai embrio bisnis bagi penumbuhan agribisnis pada skala kawasan”. Kini beberapa model dukungan inovasi tersebut siap dikukuhkan sebagai pengungkit pembangunan ekonomi daerah . Mengingat dampaknya yang positif tersebut, program dukungan inovasi dalam pengembangan kawasan agribisnis akan terus dilaksanakan dan dikembangkan hingga mampu menjadi salah satu program unggulan Kementrian Pertanian dalam 5 tahun ke depan
    - Program DPKAH dilaksanakan sejalan dengan program TTP dan TSP Kementrian Pertanian untuk memperkuat pembangunan usaha Agribisnis Hortikultura d tanah air. Konsep dasar DPKAH memiliki kemiripan dengan TTP dalam hal pelaksanaannya di lapangan yang menggunakan prinsip pengembangan komunitas yang terintegrasi (Integrated farming system). Di dalam pengembangannya, DPKAH dapat dipersiapkan menjadi program TTP dengan terlebih dahulu melengkapi persyaratan yang diperlukan, termasuk menyusun formalitas organisasi pelaksana, menyediakan infrastruktur dasar. Mengembangkan wahana Hilirisasi inovasi tekhnologi hortikultura melalui proses magang, pelatihan dan inkubasi bisnis bagi calon pelaku usaha dan memperkuat kelembagaan untuk menjamin keberlanjutan dan kemandirian
    - Mulai tahun 2015 Balitbangtan berperan aktif dalam membangun dan mengembangkan Taman Sains dan Teknologi Pertanian (TSTP) sebagai tindak lanjut arahan NAwa Cita President Republik Indonesia dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2014-2019. TTP dan TSP dilaksanakan untuk mendapatkan terobosan untuk memperderas arus inovasi pertanian kepada masyarakat. Pengembangan Taman Sains Pertanian (TSP) dilakukan di 5 lokasi kebun percobaan, sebagai wahana penelitian, pengkajian, pengembangan dan penerapan inovasi pertanian sekaligus sebagai show window dan tempat peningkatan kapasitas pelaku pembangunan pertanian termasuk penyuluh dan petani. Sedangkan Taman Teknologi Pertanian (TTP) dibangun di 16 Kabupaten/ Kota, sebagai wahana implementasi inovasi aplikatif spesifik local dari hulu ke hilir dengan melibatkan stakeholder terkait. Disamping itu, dikembangkan pula Taman Sains dan Teknologi Pertanian di komplek penelitian pertanian Cimanggu Bogor, yang berskala nasional.
    - Dalam rangka mendukung pelaksanaan TTP dan TSP diperlukan pemahaman konsep dasar dan falsafah TTP dan TSP secara komperhensif. Dukungan terhadap TSP dan TTP dapat dilakukan terhadap semua tahapan implementasi pelaksanaan kegiatan yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, serta program pendampingan berkelanjutan TSP/TTP. Pada tahap perencanaan, dukungan dapat diberikan terhadap pemilihan lokasi yang mengacu pada kriteria yang ditetapkan, pencanaan dan pelaksanaan baseline survey, penusunan model rancang bangun yang didalamnya berisi plan dan rencana aksi, sosialisasi model rancang bangun dan penyusunan kebutuhan anggaran. Pada tahap pelaksanaan, dukungan dapat diberikan dalam bentuk partisipasi implementasi rancang bangun dengan menggunakan 3 pendekatan, yaitu pendekatan social budaya, ekologi dan ekonomi. Selain itu di dalam pelaksanaannya kegiatan memperhatikan sinergi dan koordinasi dengan semua pihak yang terlibat. Dukungan lainnya diberikan pada tahap monev untuk mengamati konsistensi antara perencanaan dan pelaksanaan
    - Puslitbang Hortikultura perlu proaktif dalam penyusunan Rancang Bangun kegiatan TSP dan TTP yang melibatkan komoditas hortikultura dan pengembangan Agribisnis. Pendampingan pada kegiatan TTP dan TSP mutlak diperlukan untuk keberhasilan melalui (1) dukungan pelaksanaan pelatihan TOT hulu-hilir, (2) penyediaan benih sumber hortikultura untuk pengembangan pembenihan (sayuran) lebih lanjut, dan (3) pendampingan rutin di lapangan dari pelaksanaan monevnya.
    - Indikator keberhasilan TSP daan TTP perlu ditetapkan secara detail dan terukur yang meliputi aspek penggunaan input, proses, output, outcome, benefit dan dampak antar pihak yang terlibat dalam proses pengembangan TTP dan TSP. Keberhasilan dan keberlanjutan dari TSP dan TTP dapat dimonitor dari diterapkannya tekhnologi inovasi tersebut oleh masyarakat luas dalam skala ekonomi sehingga terbentuk system agribisnis yang berjalan dengan baik yang berujung pada peningkatan pendapatan

    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh
    • 16 Mei 2019

      Cyperus alternifolius L. (Cyperaceae)

      Nama Cyperus berasal dari bahasa Yunani, kypeiros yang berarti rumput, dan alternifolius merujuk pada susunan daun pelindung yang teratur.
      Tanaman Cyperus memiliki tinggi antara 1-2 m, bagian atas disusun oleh daun-daun pelindung yang menaungi rangkaian bunga. Letak daun pelindung C. alternifolius tidak berhadapan dengan tepi daun polos. Tulang daun sejajar dengan panjang 15 - 40 cm dan lebar 1,3 cm, tersusun secara radial. Bentuk bunga spikelet, membentuk klaster dan keluar dari
    • 15 Mei 2019

      ANJANI AGRIHORTI

      Gladiol Varietas Anjani Agrihorti merupakan hasil persilangan yang memiliki bunga dengan warna mahkota bagian atas perpaduan antara merah dan kuning yang disertai bercak merah pada kedua sisi helain mahkota.  Mahkota bagian bawah berwarna kuning pada bagian pangkal dan merah pada bagian tengah dan ujung terminal.  Lidah bunga berwarna merah dan kuning berseling pada bagian tepi dan terdapat bintik merah di bagian tengah lidah dan kuning pada bagian pangkal lidah
    • 14 Mei 2019

      ANTHURIUM PLOWMANII

      Anthurium adalah genus terbesar pada family Araceae dengan anggota lebih dari 1500 spesies (Mayo et al. 1997; Govaerts dan Frodin 2002). 
      Sistem klasifikasi anthurium menurut  Croat dan Sheffer (1983) terbagi menjadi 19 seksi, yaitu : Tetraspermium, Gymnopodium, Porphyrochitonium, Pachyneurium, Polyphyllium, Leptanthurium, Oxycarpium, Xialophyllium, Polyneurium, Urospadix, Episeiostenum, Digitinervium, Cardiolonchium, Chamaerepium, Calomystrium, Belolonchium,