• KONENG LAYUNG, ANGGREK TANAH CANTIK PENGISI TAMAN DAN TERAS RUMAH
  • ditulis tgl : 11 Februari 2015, telah dibaca sebanyak : 6136 kali


    Gambar malas ngoding
    Bunga anggrek tidak hanya sekedar indah dan cantik, namun juga memiliki jenis yang beragam, apalagi setelah dibuat persilangannya. Kombinasi dari berbagai warna dan bentuk anggrek akan menambah variasi anggrek yang ada di dunia ini. Salah satu anggrek yang mudah di dapat, mudah perawatan dan mudah perbanyakannya ialah Spathoglottis sp. Biasa dinamakan dengan anggrek tanah (ground orchid), anggrek yang hidup di tanah . Di Indonesia, Spathoglottis dapat tumbuh subur dan rajin berbunga, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Anggrek Spathoglottis yang umum dijumpai adalah Spathoglottis plicata yang berbunga ungu. Sementara spesies berbunga kuning hanya tumbuh baik di dataran tinggi. Anggrek Spathoglottis yang berbunga putih pun banyak dijumpai dan biasanya dikenal dengan nama anggrek congkok. Namun anggrek ini mudah sekali rusak bunganya bila kena hujan dan terkesan kotor berwarna coklat.Anggrek Spathoglottis memiliki ukuran bunga bervariasi, dari yang kecil dan sempit sampai besar dan lebar dengan panjang tangkai bunga yang beragam pula. Akhir-akhir ini banyak dihasilkan silangan baru antara spesies–spesies anggrek tanah untuk memenuhi permintaan konsumen. Kombinasi dua warna hasil perpaduan antara anggrek-anggrek yang berwarna polos menghasilkan anggrek yang berwarna campuran. Salah satu spesies anggrek yang memiliki perpaduan dua warna dari kedua induknya ialah Spathogottis Primrose. Spathoglottis Primrose merupakan hasil perpaduan antara Spathoglottis aurea yang berwarna kuning dengan Spathoglottis plicata yang berwarna ungu. Jenis-jenis Primrose ini juga sangat variatif tergantung dari kedua tetuanya. Varietas-varietas dari spesies Primrose generasi pertama yang telah lebih dahulu dilepas Balai Penelitian Tanaman Hias yaitu Bintang Segunung, Bintang Cipanas, dan IOPRI Star. Generasi Primrose kedua yang dilepas kemudian menggunakan spesies Spahtoglottis aurea yang sama dengan generasi Primrose pertama, namun menggunakan polen dari Spathoglottis plicata yang memiliki warna ungu lebih tua. Kombinasi warna generasi ke dua ini ternyata menghasilkan warna kuning yang lebih menyolok.Koneng Layung memiliki postur yang sama dengan Primrose generasi pertama, namun memiliki berbentuk bunga bintang, sepal dengan warna dasar kuning dipadu dengan warna tepi ungu. Petal warna dasar kuning dengan semburat warna ungu yang tebal (Gambar 1). Bibirnya berwarna merah menyala. Perpaduan warna ini menjadikan anggrek ini cantik untuk dilihat. Ukuran bunga mencapai 7 cm, dengan panjang tangkai berkisar antara 55-111 cm, dan berbunga silih berganti. Setiap tangkai bunga menyokong bunga mekar 3-5 bunga, dan akan berganti-ganti bunga mekar setelah tiga hari. Bunga lama akan rontok, digantikan dengan bunga yang baru di bawahnya. Produksi bunga dapat mencapai 15 – 20 tangkai perumpun tergantung jumlah rumpun (Gambar 2). Setiap tanamandapat membawa 1-2 tangkai bunga dan akan berbunga sepanjang tahun dengan perawatan tanaman yang baik. Anggrek ini mampu beradaptasi baik di dataran rendah – tinggi. Warna yang dimiliki akan lebih menyolok bila di tanam pada dataran tinggi. Anggrek ini dapat ditanam sebagai tanaman taman, untuk penutup tanah dan dapat menjadi point of interest jika ditanam secara berumpun. Namun sebaiknya di tanam pelindung tanaman lainnya (di bawah pohon), karena tidak tahan terkena matahari langsung. Bila ditanam di tanah, cukup dengan pemisahan rumpun bila telah padat dan pemberian pupuk kandang, akan menjadikan tanaman ini rajin berbunga. Tanaman ini dapat juga ditanam di teras-teras rumah, dapat juga ditanam sebagai tanaman pot.Selama ini anggrek yang ditanam sebagai tanaman menggunakan anggrek tanah berwarna ungu. Beredarnya anggrek tanah berwarna kuning-ungu ini dapat menggantikan atau menambah variasi anggrek tanah yang ditanam di taman
    Dr. Suskandari KartikaningrumPeneliti Balithi
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk