• MONITORING DAN EVALUASI GELAR TEKNOLOGI TANAMAN HIAS
  • ditulis tgl : 19 September 2011, telah dibaca sebanyak : 1411 kali


    Gambar malas ngoding
    Dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan Gelar Teknologi Tanaman Hias yang dilaksanakan di Bedugul, Tabanan, Bali pada bulan November 2011, Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Dr. Ir. Muchdar Soedarjo, MSc. mengadakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) untuk mengetahui kemajuan kinerja dan kualitas kerja ke lokasi yang akan digunakan sebagai tempat diselenggarakannya kegiatan tersebut.
    Ada 4 (empat) jenis kegiatan yang dilakukan dalam rangka mendiseminasikan inovasi teknologi dan mempercepat adopsi oleh pengguna (petani), yaitu a) Teknologi produksi benih bermutu krisan (Penjab: Dr.Muchdar Soedarjo), b) Teknologi pengendalian penyakit utama krisan dengan agen hayati (Penjab: Dr. Ika Djatnika), c) uji adaptasi dan preferensi pasar klon harapn krisan (Penjab: Ir. Kurnia Yuniarto, MP) dan d) uji adaptasi varietas unggul krisan, mawar, gladiol dan sedap malam (Dr.Budi Marwoto). Keempat kegiatan tersebut didanai oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) melalui program kerjasama antara Kementerian Pertanian dan KNRT. Selain monev, koordinasi dalam rangka ‘Field Day Inovasi Teknologi’ dilaksanakan dengan Bupati Pemkab Tabanan dan petani kooperator.
    Hasil monev dapat dilaporkan sebagai berikut:
    1. Semua kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana dan metodologi seperti yang tercantum dalam proposal kegiatan. Tanaman krisan, mawar dan sedap malam tumbuh optimal dan berumur sekitar 1 bulan (lihat Gambar 1). Tanaman gladiol masih baru ditanam dan berumur 1 minggu.Gambar 1: A) Teknologi produksi benih bermutu krisan, B) Teknologi pengendalian penyakit utama krisan dengan agen hayati, C) uji adaptasi dan preferensi pasar klon harapn krisan dan D) uji adaptasi var unggul krisan (D-1), mawar (D-2), dan sedap malam (D-3).
    2. Hasil koordinasi dengan Bupati Pemkab Tabanan (Gambar 2A) adalah sebagai berikut: a) Ibu Bupati berterimakasih dengan program gelar teknologi inovasi tanaman hias, produk Kementerian Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Puslitbang Horti, Balithi. b) Ibu Bupati akan mendukung Field Day dan bersedia hadir serta membuka acara, c) Ibu Bupati mengharapkan agar percontohan seperti yang dilakukan tahun 2010 dan 2011 dapat diteruskan dan dikembangkan untuk tanaman hortikultura lainnya, seperti sayuran dan buah-buahan.
    3. Koordinasi dengan petani kooperator (Gambar 2B) menghasilkan kesepakatan sebagai berikut: a) petani koperator siap memelihara dan mempertahankan pertumbahan tanaman yang sudah optimal, b) pembentukan panitya Field Day pusat dan daerah (petani koperator dan unsur masyarakat setempat, c) susunan acara pada saat pembukaan Field Day.
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk