• TEKNIK FERTIGASI PADA BUDIDAYA MAWAR BUNGA POTONG
  • ditulis tgl : 16 Februari 2011, telah dibaca sebanyak : 4350 kali


    Gambar malas ngoding
    Fertigasi adalah kependekan dari fertigation dan irrigation, artinya pemberian pupuk yang dipadukan bersama pemberian air pengairan. Kegiatan fertigasi biasanya merupakan bagian dari kegiatan pemeliharaan tanaman dalam budidaya mawar bunga potong. Tanaman mawar menyukai pemberian pupuk cair karena nutrisi dapat segera diserap perakaran. Untuk mengetahui kegiatan fertigasi yang tepat letaknya dalam budidaya mawar bunga potong akan diuraikan berikut ini. Tanaman mawar (Rosa hybrida L.) yang dijuluki ratu segala bunga, dikenal karena keindahan, keanggunan, dan keharumannya. Dari segala keunggulannya tersebut, maka tanaman ini merupakan salah satu tanaman hias yang paling dikenal dan disukai masyarakat, baik sebagai bunga potong, penghias taman maupun sebagai mawar pot. Bunga mawar potong sering digunakan sebagai lambang cinta abadi, oleh karena itu setiap bulan Pebruari bunga ini sering digunakan untuk mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang kepada seseorang yang disayangi. Pada bulan tersebut biasanya permintaan bunga mawar melonjak sehingga perlu adanya upaya untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumen tersebut.
    Permintaan mawar potong cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat. Mawar potong mempunyai volume
    mawar di Indonesia khususnya di Jakarta mengalami kenaikan sekitar 10% setiap tahunnya. Wanginya yang terkenal ke seluruh dunia ini selalu mempunyai sentuhan eksotik yang biasa digunakan untuk kosmetika. Daya tarik mawar sangat besar dan memberikan sumbangan besar pada perekonomian beberapa negara. Di negara Belanda, bunga mawar merupakan komoditas andalan misalnya  Rosa ‘Coctail’, Rosa ‘Diplomat’, Rosa ‘Evelien’, Rosa ‘Golden Times’, Rosa ‘Osiana’, dan Rosa ‘Porcelina’ yang kesemuanya memiliki keunggulan masing-masing. Hal itu menyebabkan bunga mawar menjadi salah satu jenis bunga yang banyak dipakai masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri.
    Ada bermacam-macam teknik untuk memperbanyak tanaman mawar yaitu secara generatif, vegetatif, dan vegetatif-vegetatif. Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan menggunakan biji. Cara ini biasanya dilakukan oleh para pemulia tanaman untuk menciptakan kultivar-kultivar baru dengan penyilangan. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan teknik cangkok dan setek. Sedangkan perbanyakan secara vegetatif-vegetatif dilakukan dengan teknik menggabungkan setek dan okulasi. Perbanyakan yang paling banyak dilakukan untuk keperluan komersial adalah dengan teknik vegetatif-vegetatif itu. Tanaman mawar tidak semuanya mudah diperbanyak dengan setek. Ada yang sulit, terutama yang berbunga besar. Tetapi kendala itu sudah diteliti dan dilakukan alternatif perbanyakan lainnya yaitu dengan menyambung setek pucuk dengan setek batang. Perbanyakan secara vegetatif lebih cenderung dipilih karena hasilnya lebih cepat diperoleh dibandingkan dengan perbanyakan secara generatif, selain itu perbanyakan secara vegetatif akan menghasilkan keturunan yang sama dengan induknya.
    Untuk menghasilkan pertumbuhan yang optimal tanaman mawar memerlukan lingkungan tanam yang optimal pula antara lain tanaman akan tumbuh baik pada tanah dengan kisaran pH 5,5-6,3 (Durkin, 1992). Tanaman ini menyukai kondisi lahan terbuka. Walaupun pemeliharaan mawar dilakukan secara hati-hati, hama-hama mawar kadang masih ditemukan. Beberapa hama yang menyerang mawar antara lain Aphids (kutu), Earwigs, penggerek batang (cane borer), Inchworms (ulat), Japanese beetles (kumbang Jepang), Leaf-cutter Bees (lebah pemotong daun), Leafhoppers, Pear slugs (siput), Rose Weevil (penggerek), Rose chafers (pemakan mawar), Rose Gall (korokan mawar), Rose Midge, Sawfly Larvae, Scale, Spider Mittes (tungau), dan Thrips (Hesti, 2002). Cara pengendaliannya secara fisik/manual yaitu dengan cara daun atau tunas yang terserang dibuang, aliran air yang kuat dari selang, dan cara organik dengan sabun anti serangga. Langkah ini lebih aman bagi kesehatan lingkungan.
    Untuk mengimbangi permintaan pasar terhadap bunga mawar potong yang semakin meningkat dan berkualitas baik maka dituntut untuk terus meningkatkan produksi bunga mawar sebagai bunga potong secara terus menerus. Tingkat teknik budidaya di petani masih tradisional, lahan yang sempit, dan dana yang terbatas menjadi kendala utama rendahnya kualitas dan kuantitas produksi bunga mawar potong. Untuk itu perlu dilakukan pengembangan dalam teknik budidayanya yaitu meliputi penggunaan bibit yang sehat, varietas unggul yang resisten terhadap hama dan penyakit, pemupukan yang berimbang, pemeliharaan khusus (pembentukan tanaman, bending, pinching) secara intensif, dan pengendalian gulma, hama, dan penyakit secara efisien, baik secara hayati, kultur teknis maupun kimiawi.

    TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN MAWAR
    Teknik budidaya mawar untuk memperoleh produksi bunga potong dan kualitas sesuai permintaan pasar diperlukan berbagai tindakan. Tindakan tersebut meliputi menanam tanaman dalam rumah naungan, memilih bibit yang baik, kerapatan tanaman yang sesuai, pemeliharaan tanaman yang baik meliputi penyiraman air pengairan, pemberian pupuk, pengendalian gulma, hama, dan penyakit, pembentukan tanaman melalui bending, pinching, pembuangan tunas batang bawah, panen dan pascapanen seperti yang akan diuraikan di bawah ini.
    Rumah Naungan Tanaman
    Untuk mendapatkan hasil yang baik, budidaya mawar dilakukan di dalam rumah naungan tanaman. Rumah naungan ini biasanya dibuat sebagai rumah kaca, rumah plastik dari yang sederhana dari bambu, kayu hingga yang berkerangka besi. Hal ini selain melindungi tanaman mawar dari curah hujan yang dapat mengakibatkan tanaman mudah terkena penyakit, juga menjaga mikroklimat lingkungan hidup tanaman ini seperti mempertahankan suhu lingkungan pada temperature optimum agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Selain itu agar memberikan tingkat kualitas yang dikehendaki pasar/konsumen.
    Penyiapan Bibit Di Polybag
    Media tanam yang digunakan untuk pembibitan adalah tanah dan pupuk kandang dengan per bandingan 1:1. Media dimasukkan ke dalam polybag dengan ukuran 18 x 18 cm sampai tersisa 2-3 cm dari bibir polybag. Hal Ini dimaksudkan agar media tidak tumpah pada saat penyiraman atau terpercik air hujan.
    Bahan tanaman yang digunakan adalah stek batang bawah yang berasal dari pohon induk varietas Rosa multic, Rosa multiflora, Rosa natal brior, atau varietas mawar pagar lainnya. Batang bawah yang baik digunakan adalah yang berumur cukup tua, berwarna hijau kecoklatan karena jika batang terlalu muda akan mudah mati. Ukuran batang bawah sekitar panjang 15-20 cm dan ditanam pada polybag berisi media yang telah disiapkan masing-masing polybag satu batang setek. Membuang sebagian tangkai daun sehingga hanya menyisakan dua tangkai saja di bagian atasnya. Merendamnya  ke dalam larutan Rootone F selama 5 menit bila diperlukan. Masing-masing setek ditanam ke dalam polybag yang sudah disiapkan sebelumnya. Polybag yang sudah ditanami setek diletakkan di tempat yang rata dan diberi plastik mulsa agar pada saat akan diokulasi akar yang menembus polybag tidak patah atau rusak. Setelah ditanam maka hal yang dilakukan selanjutnya adalah melakukan pemeliharaan setek batang bawah. Pemeliharaan tersebut meliputi penyiraman 1-2 kali sehari, penyulaman apabila ada yang mati, pengendalian gulma, hama dan penyakit. Akar dan tunas tumbuh sekitar 2-6 minggu setelah tanam, hal ini tergantung pada musim dan kondisi lingkungan. Setelah setek berumur 2-3 bulan atau setelah tunas mencapai tinggi 15 cm, setek siap untuk diokulasi. Seminggu sebelum okulasi, tanaman diberi pupuk urea sekitar 0,5-1 g/tanaman agar kulit mudah mengelupas.
    Cara mengokulasi batang bawah dimulai dengan menyiapkan setek batang bawah yang sudah berumur 2-3 bulan. Menyiapkan entries (batang atas) yang akan digunakan. Dalam hal ini entries yang akan digunakan dapat dipilih misalnya varietas import seperti Black magic, Grand Gala, American Beuty, varietas Nasional (BPTP Jatim) Pergiwa dan Pergiwati, varietas Nasional rakitan Balithi seperti Clarissa, Putri, Megawati, Megaputih. Diusahakan umur batang atas dan bawah sama, hal ini dimaksudkan agar keberhasilan okulasi lebih besar. Menyayat kulit batang bawah berbentuk jendela dengan arah vertikal sepanjang 1-2 cm pada ketinggian 7-8 cm dari permukaan media. Mengambil satu mata tunas yang sudah terlihat muncul dan besar (jangan tunas tidur karena akan lama tumbuhnya) dari entries dengan cara menyayat dari arah bawah ke atas. Lalu buang kayu yang terbawa dalam mata tunas. Sisipkan mata tunas tadi ke dalam celah sayatan pada batang bawah. Mata tunas diikat erat dengan tali plastic pada bidang penyambungan mulai dari bagian bawah, ke atas lalu ke bawah lagi dengan satu ikatan tali mati.
    Setelah diokulasi, pemeliharaan tanaman dilakukan dengan penyiraman 1-2 kali sehari atau sesuaikan dengan kondisi media. 2-3 minggu setelah okulasi terlihat mulai tumbuh dengan ciri warna hijau segar, maka dilakukan pemupukan NPK sebanyak 1 g/polybag. Setelah mata tunas tumbuh sudah muncul daun,  batang bawah bagian atas dipotong sekitar 2-3 cm di bagian atas bidang okulasi. Hal ini agar pertumbuhan mata tunas berlangsung lebih cepat. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan pestisida secara selektif yaitu Decis dan Dithane M-45. Sedangkan untuk pengendalian gulma dilakukan secara manual. Jika mata tunas berwarna kecoklatan dan mengering, hal itu berarti pengokulasian tidak berhasil. Setelah bibit okulasi berumur 1-2 bulan, bibit siap untuk dipindah ke lahan yang sudah disiapkan.
    Persiapan penanaman
    Budidaya tanaman mawar sebagai bunga potong dilakukan di lahan dengan menggunakan rumah naungan plastik dengan luas lahan sekitar 8 mx20 m. Persiapan penanaman dilakukan mulai dari pengolahan lahan, pembuatan bedengan dan pencampuran tanah dengan pupuk kandang atau media tanam lainnya.
    Pengolahan lahan
    Lahan diolah mulai dengan membersihkannya dari bekas tanaman lain, rumput-rumputan, gulma, kemudian tanah digali dulu sedalam 20 cm.  Lubang galian tanah diberi pupuk kandang kuda yang telah difermentasi sebesar 22 kg pupuk kandang/m2, kemudian dicangkul dan diaduk dibentuk menjadi bedengan-bedengan berukuran lebar 0,6 m, tinggi 0,2 m, dan panjang 10 m, dengan jarak antar bedengan sekitar 40 cm.  Setelah bedengan selesai dibentuk siap untuk ditanami bibit mawar.
    Penanaman
    Bibit okulasi yang sudah disiapkan ditanam dalam bedengan dengan populasi tiap bedengan 2x50 tanaman dan jarak tanam 20x30 cm (antar baris 30 cm, dalam baris 20 cm). Jarak tanam dan panjang bedengan bisa bervariasi tergantung luas lahan, naungan, dan tujuan bertanam mawar bunga potong.
    Cara menanam:
    1. Membuat lubang tanam dengan melubangi permukaan media tanam berdiameter 8 cm sedalam sekitar 18 cm dengan jarak antar as lubang 20 cm dalam baris dan antar baris 30 cm.  Cetakan lubang tanam dibuat dengan batang kayu yang dibuat runcing ujungnya.
    2. Menggali dan menyisihkan tanah di lubang tanam yang akan ditanami, diletakkan ke sekitarnya di bawah mulsa plastik hingga membentuk cekungan yang dalam agar memudahkan dalam penanaman.
    3. Menanam bibit agak dalam agar mata tunas batang bawah tertutupi tanah beserta media tanam setelah sebelumnya polybag bibit dilepas atau disobek. Tunas entries yang baru tumbuh dihadapkan ke luar bedengan agar memudahkan dilakukan bending ke arah dalam bedengan.
    4. Setelah bibit beserta medianya ditanam, media tanam sekeliling lubang tanam dipadatkan dengan cara ditimbun.
    Pemberian air pengairan
    Pengairan dilakukan dengan menggunakan sistem rough drip. Cara kerja pemberian air pengairan dengan sistem ini yaitu pipa paralon panjang dimasukkan ke dalam tabung yang berisi air bersih, setelah itu dipompa dengan pompa listrik yang sudah dipasang selang untuk dimasukkan ke dalam paralon jaringan irigasi. Dari paralon ini air akan disalurkan ke selang rough drip di permukaan media tanam sepanjang baris tanaman. Satu selang rough drip dipasang di setiap baris tanaman. Selang rough drip berukuran sekitar 0,5 inch dengan setiap 20 cm ada lubang penetes air. Kemudian dengan sendirinya air atau larutan pupuk akan menetes sedikit demi sedikit dari selang tersebut.
    Pada bulan kesatu sampai kedua setelah tanam, pengairan dilakukan secara terus menerus setiap hari satu kali penyiraman. Pengairan dilakukan setiap pagi. Pada tanaman mawar menjelang dewasa dan seterusnya pengairan tidak hanya dilakukan melalui selang rough drip, tetapi juga melalui penyemprotan menggunakan pipa paralon dan nozzle berupa pengabutan ke seluruh pertanaman. Hal ini dilakukan agar dapat membersihkan hama-hama, penyakit khususnya embun tepung dan debu yang terdapat pada daun.
    Pemangkasan
    Dikenal dua jenis pemangkasan, yaitu pemangkasan ringan dan pemangkasan berat. Pemangkasan ringan dilakukan dengan cara membuang tunas kecil, lemas, dan tunas yang terkena penyakit. Sedangkan pemangkasan berat dilakukan bila tanaman terkena penyakit yang sudah parah dan sulit ditanggulangi dengan pestisida. Biasanya yang terjadi di lapangan, pemangkasan berat yang dilakukan akan berakhir dengan matinya tanaman yang dipangkas. Oleh karena itu pemangkasan harus dilakukan sesuai dengan keadaan tanaman dan pemeliharaan selanjutnya yang lebih intensif seperti pemberian pupuk yang cukup, agar terpacu pertumbuhan tunas-tunas baru. Tujuan dari pemangkasan ini adalah untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas baru yang produktif.
    Fertigasi. Jenis tanah di Segunung adalah Andosol yang memiliki tekstur kasar dan kapasitas tukar kation rendah yang disebabkan oleh kandungan liatnya rendah.  Partikel tanah yang aktif menjerap ion adalah liat. Bahan organik juga memiliki kemampuan dalam menjerap ion. Oleh karena itu penambahan bahan organik sangat membantu pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik.
    Pemupukan
    Pupuk yang  baik bagi tanaman mawar adalah pupuk organik. Oleh sebab itu, tanaman mawar yang pupuk dasarnya berupa pupuk organik akan tumbuh subur, karena pupuk ini mengandung unsur hara makro dan mikro. Akan tetapi karena sifat pupuk organik ini sangat lambat tingkat kelarutannya dan dekomposisinya maka untuk memacu pertumbuhannya, tanaman mawar perlu diberi pupuk dari unsur anorganik makro dan mikro. Pemupukan pada tanaman mawar dilakukan sejak awal tanam dan dilakukan setiap satu minggu dua kali. Pupuk diberikan dalam bentuk larutan nutrisi bersamaan dengan pemberian air pengairan yang disebut sebagai fertigasi. Tanaman yang baru saja ditanam dapat diberi pupuk dengan memilih salah satu formula pupuk yaitu formula Cipanas A1, Cipanas A2, atau formula komersial misalnya Joro Mix A dan B yang telah ada di pasaran.

    Disampaikan dalam siaran radio pertanian Ciawi 14 Pebruari 2011 jam 16.00-17.30 WIB
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk