• PENGARUH JENIS INDUKTAN EKSOGEN TERHADAP PEMBUNGAAN LILI PADA BERBAGAI UKURAN UMBI.
  • ditulis tgl : 14 Juli 2010, telah dibaca sebanyak : 1125 kali


    Gambar malas ngoding
    Tanaman lili merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang penting di Indonesia dan dunia.  Salah satu permasalahan pada budidaya lili bunga potong adalah produktivitasnya yang rendah.  Kondisi ini disebabkan oleh ketidakseragaman pertumbuhan dan pembungaan akibat penggunaan materi tanam, yaitu ukuran umbi yang tidak seragam.  Aplikasi hari panjang dan pengatur tumbuh GA3 diharapkan mampu mempercepat waktu inisiasi bunga dan meningkatkan keseragaman pembungaan pada tanaman lili.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pembungaan tanaman lili lokal Sukabumi (kerk lily) terhadap aplikasi hari panjang dan GA3 pada ukuran umbi yang berbeda.  Penelitian dilakukan di bawah rumah plastik di kebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung (1.100 m dpl) dari bulan September 2006 hingga April 2007.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola split plot dengan 3 ulangan.  Perlakuan pada petak utama adalah jenis induktan eksogen yang terdiri atas hari panjang dan aplikasi GA3 ditambah kontrol.  Sedangkan yang bertindak sebagai anak petak adalah ukuran umbi dengan keliling < 10, 10 – 14 dan > 14 cm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang nyata antara jenis induktan pembungaan dan ukuran umbi terhadap waktu inisiasi bunga, tinggi dan diameter batang tanaman lili.  Secara umum, tanaman lili yang diberi perlakuan hari panjang dan GA3 memperlihatkan waktu inisiasi bunga yang lebih cepat, namun tinggi dan diameter batang tanaman lili yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan kontrol pada hampir semua ukuran umbi yang dicoba, kecuali pada ukuran umbi < 10 cm.  Sedangkan jumlah bunga per tanaman yang dihasilkan tanaman lili sangat tergantung pada ukuran umbi yang ditanam.  Secara umum, materi tanam dengan ukuran umbi yang lebih besar menghasilkan produksi bunga per tanaman lebih tinggi.

    Kata kunci : Lili, Lilium longiflorum, induktan eksogen, ukuran umbi, respon pembungaan.

    Kurniawan Budiarto, Yusdar Hilman
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk