• INDUKSI MUTASI ANGGREK PHALAENOPSIS TAHAN BAKTERI ERWINIA CAROTOVORA
  • ditulis tgl : 08 Januari 2010, telah dibaca sebanyak : 1585 kali


    Gambar malas ngoding
    Kerugian terbesar dalam budidaya anggrek Phalaenopsis adalah adanya serangan penyakit pada tanaman. Tiga golongan penyakit pada anggrek ini antara lain layu, busuk dan bercak daun, yang dapat menyebabkan kematian dan berdampak kerugian bagi petani. Penyakit busuk daun yang disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora adalah salah satunya.

    Bakteri ini mempunyai karakteristik mudah menular melalui air, alat pertanian atau tangan. Menyerang pada kondisi lembab dan akan meningkat intensitasnya saat musim hujan. Gejala awal adalah tanaman tampak layu, dan serangan awal pada daun atau batang semu, melepuh, dan berair.

    Pengendalian yang biasa dilakukan adalah secara mekanis dengan tangan atau pisau serta mengisolasi tanaman yang terserang dari tanaman sehat. Namun cara ini efektif bila jumlah tanaman sedikit. Cara lain dengan bahan kimia, namun cara ini juga memerlukan biaya tinggi, kurang ramah lingkungan serta merusak penampilan akibat residu bahan kimia yang dipakai. Sehingga digunakan alternatif lain dengan menggunakan tanaman tahan busuk daun melalui induksi mutasi.

    Hasil penelitian induksi mutasi yang telah diperoleh diantaranya jagung tahan leafblight di Amerika, padi tahan blast di India serta padi IR 8 tahan Sogatodes oryzicola di Kolombia. Dengan berdasarkan hasil penelitian tersebut, diharapkan penelitian ini memperoleh tanaman anggrek tahan busuk lunak, sehingga biaya operasional rendah dan budidaya yang diterapkan ramah lingkungan.

    Penelitian ini dilakukan di BATAN , laboratorium kultur jaringan Cipanas, laboratorium penyakit, dan rumahkaca Segunung.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan tanaman anggrek tahan busuk  daun yang disebabkan oleh bakteri Erwinia. Bahan yang digunakan adalah protocorm anggrek Phalaenopsis 630, 634 dan 642. Bahan tersebut diiradiasi dengan dosis 2.5 Gray, 5 Gray, 7.5 Gray dan 10 Gray. Protocorm yang telah diiradiasi selanjutnya disubkultur hingga mencapai  planlet MV3. Planlet selanjutnya diinokulasi dengan bakteri Erwinia dengan cara menyuntik pada bagian daunnya. Peubah yang diamati meliputi persentase planlet hidup dan tahan bakteri Erwinia, tinggi planlet, lebar daun, jumlah daun, besarnya serangan bakteri dan karakter lain yang muncul akibat iradiasi.

    Hasil yang dicapai tahun 2007, beberapa sampel 634 sudah diinokulasi dengan bakteri Erwinia. Untuk dosis 5 Gray tahan terhadap busuk lunak (hasil sementara). Belum semua sampel dan perlakuan diinokulasi  sehingga kegiatan ini dilanjutkan tahun 2008. Hal ini disebabkan pertumbuhan protocorm yang diiradiasi hingga mencapai planlet MV3 lambat dan perlu waktu lama. Dari 3 nomor Phalaenopsis yang diiradiasi pertumbuhannya tidak seragam, sehingga mempengaruhi respon planlet terhadap inokulan bakteri Erwinia serta waktu inokulasi. Jumlah planlet 634 dosis 10 Gray adalah 165 botol, 634 dosis 5 Gray ada 79 botol, 634 dosis 2.5 Gray ada 58 botol, 634 kontrol terdiri dari 82 botol.

    Tahapan berupa planlet dan PLB. Phalaenopsis 642 dosis 5 Gray ada 42 botol berupa PLB dan sebagian planlet, dosis 10 Gray ada 24 botol berupa PLB, demikian juga dosis 2.5 Gray dan kontrol masih berupa PLB. Phalaenopsis 630 dosis 5 Gray terdiri atas 19 botol berupa planlet dan PLB.
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk