• ANTHURIUM BAKERI HOOK. F
  • ditulis tgl : 09 Oktober 2009, telah dibaca sebanyak : 1139 kali


    Gambar malas ngoding
    Tanaman ini biasanya dikenal sebagai tanaman hias dalam pot dan dapat tumbuh baik di bawah naungan. Spesies ini secara endemis tumbuh di bawah tajuk hutan hujan tropis di Gatemala hingga Kolombia pada ketinggian 660 hingga 1.00 mdpl.

    Bot. Mag. 102: t. 6261. 1876. BPH 221.13; BPH/S 164.L05.
    Famili : Araceae
    n = 15, 2n = 30, (28 +1)

    Synonim
    1. Anthurium angelorum G.S. Bunting. Acta Bot. Venezuel., 10 (1 - 4) : 266, 1975.
    2. Anthurium turrialbense Engl. Bot. Jahrb. Syst. xxv. 406. 1898.

    Nama Lain
    Anthurium dasi (Indonesia)

    Asal-usul dan penyebaran geografi, deskripsi dan informasi botani lainnya
    A. bakeri mengandung senyawa kimia asam oksalat. Senyawa ini umum dikandung dalam tanaman pada famili Araceae. Senyawa ini digolongkan dalam senyawa beracun bila kontak dengan kulit atau sistem perncernaan. Selainasam oksalat, tanaman ini juga diketahui mengandung senyawa alkaloid saponin.
    Spesies ini merupakan tanaman yang tumbuh endemik di daerah Guatemala hingga Colombia di daerah hutan tropis basah pada ketinggian 660 – 1000 m dpl. Spesies in juga diketemukan pada habitat yang sama di Panama pada elevasi yang lebih rendah, 600 m dpl. A. bakeri mempunyai penyebaran geografi hampir ke seluruh bagian Amerika beriklim tropis.
    Tanaman ini diperdagangkan sebagai tanaman hias dalam pot. Sebagai tanaman hias, tanaman ini bertipikal tumbuh di bawah naungan atau di dalam ruangan. Produsen utama A. bakeri adalah negara-negara Amerika Latin. Kemampuan tumbuhnya yang baik di daerah tropis, menyebabkan tanaman ini banyak dijumpai dan diproduksi oleh beberapa negara yang memiliki iklim serupa seperti habitat aslinya, seperti kawasan Asia Tenggara.
    Pada habitat aslinya A. bakeri merupakan tumbuhan ephyphite, mempunyai tinggi batang mencapai hingga 10 cm dan berdiameter 1,5 cm, berwarna hijau dan beruas-ruas pendek. Daun berbentuk oval memanjang (narrow elliptic-lanceolate), bagian terlebar di bagian tengah helaian dengan ujung daun meruncing (acuminate) dan membulat sempit di bagian pangkal dekat tangkai daun. Helaian daun berwarna hijau pada bagian atas dan sangat kontras dengan warna helaian daun bagian bawah yang hijau pucat hingga agak kekuningan dengan bintik-bintik merah kecoklatan. Helaian daun memiliki panjang hingga 19 - 55 cm dan lebar 2,8 - 9 cm. Helaian daun memilki tulang daun yang sejajar panjang daun (collective vein) terdapat di tengah (tulang daun primer) dan di bagian pinggir pada kedua tepi daun yang berjarak 2 – 4 mm dari tepi daun. Tulang daun lateral mengkoneksi tulang daun primer dengan tulang daun kolektif dengan membentuk sudut hampir 450 dengan tulang daun primer. Tangkai daun berbetuk silindris dengan panjang mencapai 11 – 17 cm.
    Bunga A. bakeri tumbuh ke atas (erect). Spathe berbentuk oblong dengan ujung meruncing dengan panjang mencapai 2 – 5,5 cm dan lebar 7 – 28 mm, berwarna hijau kekuningan pucat dengan tepi berwarna keunguan pada beberapa variannya. Panjang stipe (tangkai spadiks) 3 mm dengan diameter sekitar 2 mm. Spadiks berwarna hijau muda hingga keputihan, dengan panjang mencapai 2 – 11 cm, berdiameter 5 – 15 mm di bagian ujung dan mencapai 4,5 – 12 di bagian bawah dekat stipe. Bunga berjumlah 7 – 8 pada spiral utama dan 5 – 6 pada alternasinya. Anther akan masak dengan pola yang tidak teratur dan menghasilkan serbuk sari (pollen) yang berwarna putih setelah bunga betina (stigma) mencapai kematangan.
    Buah A.bakeri berbentuk beri lonjong dengan panjang mencapai 6 mm. Mesokarp lembek berair bila biji sudah masak. Biji biasanya berjumlah 2 pada setiap buah berry, berwarna putih hingga krim dengan panjang 3,2 mm, lebar 2 mm dan tebal 1,2 mm.
    Secara alami tanaman ini berkembang biak secara generatif dan vegetatif. Perkembangbiakan secara vegetatif secara alami jarang terjadi, walaupun pada setiap internode di atas buku, terdapat mata tunas yang berpotensi untuk tumbuh menjadi tunas dan membentuk sistem perakaran baru.
    Merupakan sifat yang umum hampir pada semua tanaman Araceae, bunga A. bakeri bersifat protogynous, di mana bunga betina masak terlebih dahulu dibandingkan bunga jantannya. Tetapi sering diketemukan pada kondisi alami, tanaman ini menghasilkan biji yang fertil. Biji ini terbentuk tanpa fertilisasi dan merupakan biji apomiktif yang berkembang dari bagian lain selain ovum pada ovul. Embrio yang terbentuk berkembang lebih lanjut menjadi biji. Biji yang sudah masak akan jatuh ke tanah dan berkecambah menjadi tanaman muda baru.
    A. bakeri tergolong seksi Porphyrochitonium yang berciri utama mempunyai internode yang pendek dan daun yang memanjang (elongate), tidak berbentuk cordata seperti pada hampir seksi yang lain. Lebih dari 250 spesies termasuk seksi ini dan beberapa di antaranya belum teridentifikasi secara ilmiah. Beberapa spesies dilaporkan telah berhasil disilangkan dan menghasilkan varian-varian baru. Namun demikian, beberapa kasus menunjukkan terdapat inkompatibilitas persilangan yang melibatkan A. bakeri sebagai tetua betina. Inkompatibilitas ini diduga karena A. bakeri bersifat aneuploid, sehingga embrio gagal terbentuk. Sifat aneuploid ini dilaporkan juga dipunyai oleh A. bicollectivum, A. lancifolium dan A. scherzerianum. Sedangkan persilangan yang melibatkan A. bakeri sebagai tetua jantan dilaporkan telah berhasil dilakukan.

    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk